
- Nizar Alwan
Berapa Gaji TKBM? Sistem Upah dan Faktor yang Memengaruhinya
Tenaga Kerja Bongkar Muat atau TKBM menjadi bagian penting dalam aktivitas logistik, terutama ketika barang harus dipindahkan dari kapal, kendaraan, gudang, atau area penumpukan menuju titik berikutnya. Proses ini terlihat sederhana dari luar, tetapi di lapangan membutuhkan koordinasi tenaga, waktu, peralatan, dan prosedur kerja yang tepat.
Karena karakter pekerjaannya cukup berbeda dengan pekerjaan kantor, sistem penghasilan TKBM juga tidak selalu berupa gaji bulanan dengan nominal yang sama setiap periode. Ada pekerja yang menerima pembayaran berdasarkan hari kerja, jumlah pekerjaan, volume barang, tonase, maupun mekanisme lain sesuai sistem yang berlaku di lokasi kerjanya.
Itulah sebabnya pertanyaan mengenai gaji TKBM tidak bisa dijawab dengan satu angka yang mewakili seluruh Indonesia. Untuk memahaminya dengan lebih tepat, kita perlu melihat bagaimana sistem pengupahan tenaga bongkar muat bekerja dan faktor apa saja yang dapat memengaruhi penghasilannya.
Sekilas Mengenal Tenaga Kerja Bongkar Muat
TKBM adalah tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan bongkar dan muat barang, khususnya di lingkungan operasional seperti pelabuhan. Pekerjaan mereka dapat berhubungan dengan pemindahan, penataan, hingga penanganan barang sesuai karakter muatan dan kebutuhan operasional.
MUAT Cargo telah membahas aktivitas dan tanggung jawab pekerja ini lebih khusus dalam artikel mengenai tugas dan fungsi Tenaga Kerja Bongkar Muat. Pada pembahasan kali ini, fokusnya lebih diarahkan pada sisi penghasilan, sistem pembayaran, dan pengelolaannya dari perspektif pekerja maupun perusahaan.
TKBM juga dapat berhadapan dengan jenis barang yang sangat beragam. Pada penanganan general cargo, misalnya, barang dapat berbentuk kardus, karung, peti, palet, mesin, maupun kemasan lainnya. Perbedaan bentuk, ukuran, berat, serta karakter barang membuat kebutuhan tenaga dan metode handling tidak selalu sama.
Pekerjaan ini juga membutuhkan kompetensi dan perhatian terhadap keselamatan. Kementerian Perhubungan telah menetapkan standar kompetensi kerja untuk jabatan TKBM barang-barang umum atau general cargo melalui KM 109 Tahun 2021. Artinya, aktivitas bongkar muat bukan hanya mengandalkan tenaga fisik, tetapi juga membutuhkan kemampuan bekerja sesuai prosedur dan kondisi operasional.
Berapa Gaji TKBM?
Tidak ada satu standar nominal yang dapat digunakan untuk menentukan gaji seluruh TKBM di Indonesia.
Sistem penghasilan tenaga bongkar muat dapat berbeda antara satu pelabuhan, perusahaan, gudang, atau area operasional dengan lokasi lainnya. Ada yang menggunakan sistem pembayaran berdasarkan waktu kerja, jumlah pekerjaan, volume atau tonase barang, hingga sistem kelompok kerja yang sebelumnya telah disepakati.
Sebagai salah satu gambaran, penelitian terhadap TKBM di Pelabuhan Cirebon yang dipublikasikan pada 2024 mencatat rata-rata pendapatan responden sekitar Rp2.500.000 per bulan. Penelitian tersebut juga mencatat waktu kerja yang dapat mencapai sekitar 10 jam per hari.
Angka tersebut tidak bisa dianggap sebagai standar nasional. Data itu hanya menggambarkan kondisi responden pada lokasi dan periode penelitian tertentu. Kondisi pengupahan di pelabuhan lain, perusahaan logistik, gudang, maupun wilayah lain dapat berbeda cukup jauh.
Karena itu, ketika membandingkan penghasilan TKBM, akan lebih tepat jika kita terlebih dahulu memahami bagaimana pembayaran dihitung, bukan hanya melihat nominal akhirnya.
Faktor yang Memengaruhi Penghasilan TKBM
Besarnya penghasilan TKBM dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Faktor-faktor ini juga menjelaskan mengapa dua pekerja dengan jenis pekerjaan yang terlihat serupa belum tentu menerima jumlah pembayaran yang sama.
Lokasi dan Tempat Kerja
Setiap pelabuhan dan area operasional memiliki karakter yang berbeda. Intensitas bongkar muat, jumlah barang, pola kerja, hingga ketentuan pembayaran dapat berubah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Karena itu, nominal penghasilan TKBM di satu daerah tidak sebaiknya langsung dijadikan patokan untuk daerah lain.
Volume Barang yang Ditangani
Jumlah barang juga berpengaruh terhadap kebutuhan pekerjaan. Penanganan beberapa koli tentu berbeda dengan kegiatan bongkar muat dalam volume besar yang membutuhkan lebih banyak tenaga dan waktu.
Dalam sistem pembayaran tertentu, jumlah, volume, atau tonase pekerjaan dapat menjadi salah satu dasar perhitungan penghasilan.
Jenis dan Karakter Barang
Bentuk barang sangat memengaruhi cara penanganannya.
Barang dalam kardus berukuran seragam relatif lebih mudah dipindahkan dibanding mesin berat, barang panjang, material proyek, kabel haspel, barang fragile, atau muatan dengan dimensi tidak beraturan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebutuhan tenaga, alat bantu, waktu pengerjaan, serta metode kerja yang digunakan selama proses bongkar muat barang.
Jumlah Hari dan Jam Kerja
Pada kegiatan logistik, kebutuhan tenaga dapat mengikuti jadwal kapal, kendaraan, aktivitas gudang, maupun target operasional.
Apabila pembayaran dihitung berdasarkan hari atau jam kerja, jumlah pekerjaan dalam satu periode tentu dapat memengaruhi total penghasilan yang diterima.
Lembur dan Pekerjaan Tambahan
Tidak semua aktivitas bongkar muat selesai pada jam kerja reguler. Volume barang yang besar, keterlambatan kendaraan, jadwal kedatangan kapal, maupun kebutuhan operasional lain dapat membuat pekerjaan berlangsung lebih lama.
Jika pekerja memenuhi ketentuan lembur yang berlaku, pembayaran tambahan tersebut dapat menjadi salah satu komponen penghasilan.
Sistem Pengupahan yang Digunakan
Ini menjadi salah satu faktor terpenting.
Pembayaran TKBM dapat menggunakan pendekatan yang berbeda sesuai kebutuhan pekerjaan dan kesepakatan yang berlaku. Ada pekerjaan yang dihitung berdasarkan hari, jam, volume, tonase, jumlah pekerjaan, kelompok kerja, atau sistem lainnya.
Karena itu, sebelum membandingkan gaji antarpekerja atau antarwilayah, penting untuk mengetahui terlebih dahulu mekanisme pembayaran yang digunakan.
Contoh Sistem Pembayaran TKBM dalam Operasional MUAT Cargo
Dalam operasional MUAT Cargo sendiri, pembayaran TKBM tidak menggunakan satu nominal yang sama untuk setiap pekerjaan. Besarannya dapat berbeda mengikuti sistem kerja, jenis barang, jumlah atau volume muatan, kebutuhan tenaga, durasi pekerjaan, hingga kesepakatan yang dibuat untuk kebutuhan pengiriman customer tertentu.
Salah satu contoh yang pernah diterapkan MUAT adalah pada penanganan kabel haspel untuk customer di Samarinda dan Balikpapan. Untuk pekerjaan tersebut, TKBM dibayar rata-rata sekitar Rp100.000–Rp150.000 per orang per hari, mengikuti ketentuan dan kesepakatan yang telah dibuat dengan client.
Angka ini bukan tarif baku TKBM MUAT Cargo dan tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk semua pekerjaan bongkar muat. Kebutuhan tenaga untuk kabel haspel, misalnya, tentu dapat berbeda dengan bongkar muat kardus, palet, mesin, material proyek, atau jenis barang lainnya.
Contoh tersebut memperlihatkan mengapa nominal pembayaran TKBM sebaiknya selalu dibaca bersama konteks pekerjaannya. Dua pekerjaan yang sama-sama disebut “bongkar muat” belum tentu membutuhkan jumlah pekerja, durasi, alat bantu, maupun tingkat penanganan yang sama.
Bagi perusahaan cargo maupun pemilik barang, kesepakatan mengenai kebutuhan tenaga sebaiknya dibicarakan sejak awal. Dengan begitu, jumlah pekerja, metode handling, waktu kerja, dan biaya yang muncul dapat disesuaikan dengan kondisi barang serta kebutuhan operasional di lapangan.
Bagaimana Penghasilan TKBM Dihitung?
Tidak ada satu rumus yang berlaku untuk seluruh tenaga bongkar muat. Namun, ilustrasi sederhana dapat membantu menjelaskan bagaimana sistem berbasis pekerjaan bekerja.
Misalnya seorang pekerja memperoleh pembayaran Rp100.000 untuk satu pekerjaan bongkar muat. Jika selama satu periode ia menyelesaikan 25 pekerjaan, maka:
Penghasilan = pembayaran per pekerjaan × jumlah pekerjaan
Rp100.000 × 25 = Rp2.500.000
Perhitungan tersebut hanya ilustrasi dan bukan tarif TKBM yang berlaku di lapangan.
Pada praktiknya, perusahaan atau pengelola pekerjaan dapat menggunakan dasar perhitungan yang berbeda, seperti jumlah hari kerja, jam kerja, tonase, volume barang, produktivitas, shift, atau mekanisme lain sesuai ketentuan yang digunakan.
Inilah yang membuat angka penghasilan TKBM tidak bisa disederhanakan menjadi satu nominal tetap untuk seluruh pekerja.
Komponen Penghasilan TKBM yang Perlu Dipahami
Selain pembayaran utama, penghasilan tenaga bongkar muat dapat terdiri dari beberapa komponen. Struktur pastinya tentu bergantung pada status kerja dan kebijakan yang berlaku.
Upah utama merupakan pembayaran yang diterima atas pekerjaan yang dilakukan sesuai sistem pengupahan perusahaan atau tempat kerja.
Insentif dapat diberikan berdasarkan produktivitas, jumlah pekerjaan, pencapaian tertentu, atau kebijakan internal lainnya.
Uang lembur dapat menjadi tambahan apabila pekerja menjalankan pekerjaan di luar waktu kerja normal dan memenuhi ketentuan lembur yang berlaku.
Tunjangan atau fasilitas juga dapat tersedia pada hubungan kerja tertentu sesuai status pekerja, kebijakan perusahaan, serta ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, potongan membuat jumlah bruto belum tentu sama dengan nominal bersih yang diterima pekerja. Karena itu, pencatatan komponen penghasilan perlu dilakukan dengan jelas agar baik perusahaan maupun pekerja memahami bagaimana angka akhir diperoleh.
Mengapa Pengelolaan Gaji Tenaga Operasional Bisa Lebih Kompleks?
Dari sisi perusahaan, menghitung penghasilan tenaga operasional bisa menjadi pekerjaan yang cukup kompleks ketika jumlah pekerja mulai bertambah.
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki puluhan pekerja dengan jadwal berbeda. Dalam satu periode, jumlah hari masuk, lembur, insentif, potongan, dan komponen pembayaran masing-masing orang bisa berbeda. Jika data tersebut dicatat pada beberapa dokumen atau spreadsheet terpisah, proses pengecekan akan semakin panjang.
Situasi seperti ini cukup umum pada bisnis yang aktivitasnya bergantung pada gudang, distribusi, transportasi, dan pekerjaan lapangan. Administrasi gaji akhirnya tidak hanya berkaitan dengan HR, tetapi juga berhubungan dengan kontrol biaya operasional.
Perusahaan perlu mengetahui bukan hanya berapa jumlah uang yang dibayarkan kepada pekerja, tetapi juga apa yang membentuk jumlah tersebut. Catatan yang rapi akan mempermudah proses pengecekan apabila terdapat perbedaan jam kerja, lembur, maupun komponen pembayaran lainnya.
Mengelola Payroll TKBM dan Tenaga Operasional
Pada perusahaan dengan jumlah tenaga kerja yang cukup banyak, penggunaan sistem penggajian dapat membantu membuat administrasi menjadi lebih terstruktur.
Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah software payroll dari GajiHub. Sistem seperti ini dapat membantu perusahaan mengelola beberapa komponen yang sebelumnya harus diperiksa secara manual.
Menghitung Komponen Penggajian
Spreadsheet masih dapat digunakan ketika jumlah karyawan belum terlalu banyak. Namun, semakin besar tim dan semakin beragam komponen pembayarannya, proses pengecekan juga akan semakin rumit.
GajiHub menyediakan fitur kalkulasi penggajian, laporan, serta pembuatan slip gaji. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, HR atau tim administrasi dapat melihat komponen pembayaran setiap karyawan secara lebih jelas tanpa harus menggabungkan terlalu banyak file terpisah.
Mengelola Data Lembur
Lembur menjadi salah satu komponen yang cukup relevan untuk pekerjaan operasional. Jumlah jam tambahan antara satu pekerja dan pekerja lainnya dapat berbeda sehingga pencatatannya perlu dilakukan secara konsisten.
GajiHub menyediakan fitur pengelolaan lembur yang dapat terhubung dengan proses penggajian. Karyawan juga dapat menggunakan Employee Self Service untuk melakukan pencatatan tertentu yang kemudian masuk ke dalam sistem.
Dengan data yang terhubung, proses pemeriksaan pembayaran menjadi lebih mudah ditelusuri ketika perusahaan perlu mencocokkan jam kerja dengan nominal yang diberikan.
Membuat Slip dan Laporan Gaji
Slip gaji bukan hanya dokumen administratif. Informasi ini membantu pekerja memahami komponen penghasilan yang mereka terima, sementara laporan penggajian membantu perusahaan melakukan pengecekan secara berkala.
Bagi perusahaan yang memiliki banyak tenaga kerja, proses pembuatan dokumen secara otomatis juga dapat mengurangi pekerjaan berulang yang sebelumnya perlu dilakukan satu per satu.
Rekrutmen Tenaga Operasional Juga Perlu Dikelola dengan Baik
Pengelolaan tenaga kerja sebenarnya dimulai jauh sebelum pembayaran gaji dilakukan. Perusahaan harus mencari kandidat, melakukan seleksi, mengecek pengalaman, memastikan dokumen yang dibutuhkan, hingga menentukan apakah seseorang sesuai dengan karakter pekerjaan.
Pada posisi operasional seperti TKBM, perusahaan perlu mempertimbangkan pengalaman kerja, kedisiplinan, kesiapan mengikuti prosedur keselamatan, kemampuan bekerja dalam tim, dan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan.
Dokumen kandidat juga perlu dikelola secara rapi. Selain CV dan persyaratan pendukung lainnya, perusahaan dapat meminta cover letter untuk posisi tertentu apabila memang relevan dengan proses seleksi yang digunakan.
Meski demikian, untuk posisi seperti TKBM, cover letter sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar penilaian. Pengalaman kerja, kompetensi, kemampuan menjalankan prosedur operasional, serta kelengkapan dokumen tetap lebih berkaitan langsung dengan kesiapan kandidat menjalankan pekerjaannya.
Dengan proses rekrutmen yang terdokumentasi, HR juga lebih mudah mengetahui kandidat mana yang masih berada pada tahap administrasi, wawancara, pemeriksaan dokumen, tes kompetensi, atau sudah masuk ke tahap penerimaan.
Pengelolaan TKBM Tidak Hanya Soal Gaji
Nominal pembayaran memang penting, tetapi pengelolaan tenaga bongkar muat tidak berhenti pada berapa rupiah yang diterima pekerja.
Perusahaan juga perlu memperhatikan jumlah tenaga yang sesuai dengan pekerjaan, pembagian tanggung jawab, keselamatan, kompetensi, waktu kerja, hingga kesiapan peralatan. Semua aspek tersebut saling berhubungan dengan kelancaran proses logistik.
Kekurangan tenaga, misalnya, dapat membuat pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama. Sebaliknya, penggunaan tenaga yang tidak sesuai dengan karakter barang juga dapat menambah risiko kerusakan atau membuat proses menjadi kurang efisien.
Dalam operasional pelabuhan dan distribusi, waktu bongkar muat barang juga dapat memengaruhi alur kendaraan dan proses distribusi berikutnya. Karena itu, kebutuhan tenaga sebaiknya dipertimbangkan bersama data jenis barang, jumlah koli, berat, dimensi, metode handling, akses lokasi, serta alat bantu yang diperlukan.
Pendekatan seperti ini membuat tenaga bongkar muat tidak hanya dipandang sebagai komponen biaya, tetapi sebagai bagian dari proses operasional yang perlu direncanakan dengan baik.
Kesimpulan: Gaji TKBM Tidak Memiliki Satu Standar Nasional
Tidak ada satu nominal gaji TKBM yang berlaku sama untuk seluruh pekerja di Indonesia. Penghasilan dapat dipengaruhi oleh lokasi kerja, jenis pekerjaan, volume barang, jumlah hari dan jam kerja, lembur, hingga sistem pembayaran yang digunakan oleh masing-masing perusahaan atau area operasional.
Penelitian terhadap TKBM di Pelabuhan Cirebon yang dipublikasikan pada 2024 mencatat rata-rata penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan pada responden yang diteliti. Namun, angka tersebut hanya menggambarkan kondisi pada lokasi dan periode tertentu sehingga tidak dapat digunakan sebagai standar nasional.
Pengalaman operasional MUAT Cargo juga menunjukkan pola yang sama. Untuk penanganan kabel haspel pada customer tertentu di Samarinda dan Balikpapan, pembayaran TKBM berada di kisaran Rp100.000–Rp150.000 per orang per hari, sesuai kebutuhan pekerjaan dan kesepakatan dengan client. Nominal tersebut merupakan contoh kasus operasional dan bukan tarif tetap untuk seluruh layanan bongkar muat MUAT Cargo.
Bagi pekerja, memahami struktur penghasilan membantu mengetahui dari mana pembayaran diperoleh. Bagi perusahaan, pencatatan upah, lembur, insentif, potongan, dan data kerja secara terstruktur membantu proses penggajian menjadi lebih mudah diperiksa dan dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, pengelolaan TKBM tidak hanya berbicara tentang gaji. Kompetensi pekerja, keselamatan, kecukupan tenaga, sistem administrasi, serta koordinasi operasional sama-sama berperan dalam menjaga proses bongkar muat dan distribusi barang tetap berjalan dengan baik.
Artikel ini merupakan hasil kerja sama GajiHub dan MUAT Cargo.



