Apa Itu Operator Warehouse dan SIO? Kenali Tugas, Syarat, serta Aturan K3

Apa Itu Operator Warehouse dan SIO Kenali Tugas, Syarat, serta Aturan K3

Di dalam gudang, setiap pekerja bisa memiliki tanggung jawab yang berbeda. Ada yang memeriksa barang masuk, mengambil produk dari rak, mencatat perubahan stok, menyiapkan kemasan, atau membantu proses pemuatan ke kendaraan.

Pada area yang sama, ada pula pekerja yang mengoperasikan forklift untuk memindahkan pallet dan mengambil barang dari rak tinggi. Meskipun sama-sama bekerja di warehouse, tugas dan kewenangan mereka belum tentu sama.

Perbedaan ini penting ketika membahas SIO. Masih banyak anggapan bahwa setiap operator warehouse wajib memiliki SIO hanya karena bekerja di gudang. Padahal, kewajiban tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh nama jabatan.

Pekerja yang hanya melakukan pengecekan, picking, packing, atau pencatatan stok tidak otomatis menjadi operator forklift. Namun, ketika seorang pekerja ditugaskan mengoperasikan forklift atau pesawat angkat dan angkut lainnya, perusahaan perlu memastikan kompetensi serta Lisensi K3 operatornya sesuai dengan alat yang digunakan.

Apa Itu Operator Warehouse?

Operator warehouse adalah pekerja yang terlibat dalam kegiatan operasional barang di dalam gudang. Tanggung jawabnya dapat dimulai sejak barang diterima hingga barang tersebut disiapkan untuk keluar dari gudang.

Istilah operator warehouse umumnya digunakan sebagai nama jabatan di perusahaan. Karena itu, ruang lingkup pekerjaannya dapat berbeda antara satu tempat kerja dengan tempat kerja lainnya.

Pada gudang berukuran kecil, seorang operator mungkin mengerjakan beberapa proses sekaligus. Ia dapat menerima barang, menyusunnya ke area penyimpanan, mengambil pesanan, lalu membantu menyiapkan barang untuk dikirim.

Di gudang yang lebih besar, pekerjaan biasanya dibagi menjadi fungsi yang lebih khusus. Ada petugas receiving, checker, picker, packer, inventory operator, loader, dan operator forklift.

Seluruh fungsi tersebut merupakan bagian dari kegiatan warehousing dan pengelolaan barang, tetapi tidak semuanya memiliki kewenangan untuk mengoperasikan alat angkat dan angkut.

Apa Itu Operator Warehouse dan SIO Kenali Tugas, Syarat, serta Aturan K3

Tugas Operator Warehouse dalam Kegiatan Gudang

Pekerjaan operator warehouse mengikuti perjalanan barang di dalam gudang. Prosesnya tidak hanya mengangkat dan memindahkan kardus. Operator juga perlu memastikan barang sesuai dengan dokumen, tercatat dalam sistem, ditempatkan pada lokasi yang benar, dan siap dikirim dalam kondisi baik.

Menerima dan Memeriksa Barang Masuk

Proses biasanya dimulai di area receiving. Barang yang datang dari pemasok, pabrik, pelanggan, atau cabang lain diperiksa sebelum dimasukkan ke lokasi penyimpanan.

Operator perlu mencocokkan jumlah barang dengan dokumen penerimaan. Nama produk, kode barang, jumlah koli, label, kondisi kemasan, dan tujuan penyimpanan juga perlu diperhatikan.

Sebagai contoh, sebuah gudang menerima sepuluh kardus komponen mesin. Jumlahnya memang sesuai dengan surat jalan, tetapi salah satu kardus terlihat basah dan bagian bawahnya hampir terbuka.

Dalam kondisi seperti itu, operator tidak seharusnya langsung mencampurkan seluruh barang ke dalam stok normal. Barang yang bermasalah perlu dipisahkan, didokumentasikan, dan dilaporkan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Pemeriksaan pada tahap awal membantu mencegah masalah yang lebih besar. Kerusakan yang terlambat diketahui dapat menimbulkan selisih stok, perselisihan dengan pemasok, atau keterlambatan saat barang hendak dikirim.

Menempatkan Barang ke Lokasi Penyimpanan

Setelah barang diperiksa, proses dilanjutkan dengan memindahkan barang dari area penerimaan menuju lokasi penyimpanan. Tahapan ini dikenal sebagai putaway.

Penempatan barang sebaiknya tidak hanya didasarkan pada ruang yang terlihat kosong. Operator perlu mengikuti kode lokasi, kapasitas rak, berat barang, ukuran kemasan, karakter produk, dan frekuensi pengambilannya.

Barang yang sering keluar biasanya lebih efisien ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau. Sementara itu, barang berat membutuhkan rak dan metode penanganan yang sesuai agar tidak membahayakan pekerja maupun merusak struktur penyimpanan.

Kesalahan putaway dapat membuat barang sulit ditemukan. Pada sistem, barang mungkin tercatat berada di rak tertentu, padahal secara fisik ditempatkan di lokasi lain. Akibatnya, proses picking menjadi lebih lambat dan akurasi stok ikut terganggu.

Menjaga Akurasi Stok

Setiap perpindahan barang perlu tercatat. Sistem yang digunakan dapat berupa kartu stok, spreadsheet, barcode scanner, ERP, atau Warehouse Management System.

Ketika barang masuk, dipindahkan, diambil, dikembalikan, atau dinyatakan rusak, statusnya harus diperbarui. Operator juga dapat terlibat dalam cycle count atau stock opname untuk membandingkan jumlah barang fisik dengan catatan sistem.

Selisih stok tidak selalu berarti barang hilang. Masalah dapat terjadi karena salah memasukkan jumlah, transaksi belum dikonfirmasi, barang ditempatkan di lokasi yang keliru, atau penggunaan satuan yang tidak konsisten.

Karena itu, operator warehouse tidak hanya membutuhkan tenaga fisik. Ketelitian membaca kode barang, lokasi, jumlah, dan dokumen menjadi bagian penting dari pekerjaannya.

Mengambil Barang Sesuai Pesanan

Ketika ada permintaan barang keluar, operator mengambil produk berdasarkan picking list atau instruksi pada sistem.

Barang perlu diperiksa berdasarkan kode produk, jumlah, batch, lokasi, kondisi, dan tujuan pengiriman. Setelah diambil, barang biasanya melewati pemeriksaan kembali sebelum masuk ke proses packing.

Kesalahan picking dapat terjadi ketika dua produk memiliki kemasan yang hampir sama, tetapi kode atau spesifikasinya berbeda. Secara visual barang mungkin terlihat benar, tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan pesanan.

Masalah seperti ini tidak hanya menyebabkan salah kirim. Catatan persediaan juga ikut berubah dan tim gudang perlu melakukan pekerjaan ulang untuk memperbaikinya.

Menyiapkan Barang untuk Dikirim

Setelah selesai diperiksa, barang disiapkan untuk packing dan staging.

Jenis kemasan perlu disesuaikan dengan karakter barang. Produk yang kokoh mungkin cukup menggunakan kardus dan stretch film. Barang yang mudah pecah, tergores, atau memiliki komponen menonjol membutuhkan pelindung tambahan.

Barang yang telah dikemas kemudian ditempatkan di area staging sesuai rute, kendaraan, jadwal keberangkatan, pelanggan, atau nomor dokumennya. Penataan ini membantu mengurangi risiko barang masuk ke kendaraan yang salah.

Pada tahap berikutnya, operator warehouse dapat membantu loading dan unloading. Aktivitas tersebut memerlukan koordinasi dengan checker, pengemudi, serta petugas lapangan.

Urutan pemuatan, kestabilan barang, kapasitas kendaraan, dan alat bantu yang digunakan perlu direncanakan. Penjelasan lebih lengkap mengenai proses tersebut dapat dibaca dalam artikel prosedur bongkar muat barang.

Apakah Operator Warehouse Sama dengan Operator Forklift?

Operator warehouse dan operator forklift dapat bekerja di area yang sama, tetapi keduanya tidak selalu merupakan posisi yang sama.

Operator warehouse menjalankan proses barang di dalam gudang. Tugasnya dapat berupa menerima barang, melakukan putaway, menjaga catatan stok, picking, checking, packing, atau staging.

Sementara itu, operator forklift secara khusus memiliki tanggung jawab mengoperasikan forklift sesuai dengan jenis alat, kapasitas, prosedur, dan kewenangannya.

PosisiTanggung Jawab UtamaMengoperasikan Forklift
Operator warehouseMenangani alur barang masuk, penyimpanan, picking, packing, dan stagingTidak selalu
CheckerMemeriksa jumlah, jenis, kondisi, dan dokumen barangUmumnya tidak
Warehouse adminMengelola data, dokumen, dan laporan persediaanTidak
Loader atau unloaderMembantu proses muat dan bongkarBergantung pada alat yang digunakan
Operator forkliftMengoperasikan forklift sesuai jenis dan kapasitasnyaYa
Supervisor warehouseMengatur tenaga kerja, SOP, target, dan alur operasionalTidak selalu

Seorang operator warehouse dapat merangkap sebagai operator forklift apabila mendapat penugasan dari perusahaan dan telah memenuhi persyaratan yang berlaku.

Namun, pekerja yang terbiasa melakukan picking, packing, atau memindahkan barang secara manual tidak otomatis boleh mengoperasikan forklift.

Mampu membuat forklift bergerak bukan berarti seseorang telah memahami kestabilan alat, kapasitas angkat, pusat beban, blind spot, kondisi permukaan, serta risiko yang dapat timbul bagi pekerja lain.

Apa Itu SIO?

SIO merupakan istilah yang umum digunakan untuk menyebut Surat Izin Operator.

Dalam lowongan kerja atau percakapan sehari-hari, istilah “SIO forklift” masih sering digunakan. Namun, Permenaker Nomor 8 Tahun 2020 menggunakan istilah Lisensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang selanjutnya disebut Lisensi K3.

Lisensi K3 merupakan kartu tanda kewenangan untuk menjalankan tugas sebagai teknisi, operator, atau juru ikat dalam bidang pesawat angkat dan pesawat angkut.

Peraturan tersebut juga mendefinisikan operator sebagai tenaga kerja yang memiliki kemampuan dan keterampilan khusus untuk mengoperasikan pesawat angkat dan pesawat angkut.

Definisi ini menunjukkan bahwa istilah operator dalam konteks regulasi K3 lebih khusus daripada penggunaan kata “operator” sebagai nama jabatan umum di perusahaan.

Sertifikat kompetensi dan Lisensi K3 juga tidak sebaiknya dianggap sebagai dokumen yang sama. Dalam persyaratan operator, keduanya disebut secara terpisah.

Sertifikat kompetensi menunjukkan bahwa seseorang telah memenuhi standar kemampuan di bidangnya. Lisensi K3 menjadi tanda kewenangan untuk menjalankan tugas sebagai operator sesuai jenis dan kualifikasi alat.

Apakah Semua Operator Warehouse Wajib Memiliki SIO?

Tidak semua operator warehouse otomatis wajib memiliki SIO atau Lisensi K3.

Penentu utamanya adalah tugas dan alat yang digunakan.

Pekerja yang hanya melakukan receiving, checking, picking manual, packing, pemindaian barcode, atau pencatatan persediaan tidak otomatis termasuk operator forklift.

Lisensi K3 menjadi diperlukan ketika pekerja ditugaskan mengoperasikan pesawat angkat atau pesawat angkut yang tercakup dalam peraturan, seperti forklift, lifttruck, rack stacker, reach stacker, atau telehandler.

Perhatikan dua contoh berikut.

Andi bekerja sebagai picker. Ia mengambil barang dari rak rendah menggunakan trolley dan memindai barcode sebelum barang dibawa ke area packing. Andi bekerja di warehouse, tetapi ia tidak mengoperasikan forklift.

Budi juga tercatat sebagai operator warehouse. Namun, sehari-hari ia menggunakan forklift untuk mengambil pallet dari rak dan memindahkannya ke area staging.

Walaupun nama jabatan Andi dan Budi sama, tugas Budi sudah melibatkan pengoperasian alat yang membutuhkan kompetensi dan Lisensi K3 sesuai ketentuan.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya memeriksa nama jabatan pada kontrak kerja. Jenis alat, kapasitas, pekerjaan aktual, serta kewenangan pekerja harus menjadi dasar penentuannya.

Kelas Operator Forklift dan Kewenangannya

Permenaker Nomor 8 Tahun 2020 membagi operator forklift, lifttruck, rack stacker, reach stacker, dan telehandler menjadi Operator Kelas II dan Operator Kelas I.

Operator Kelas II berwenang mengoperasikan alat sesuai jenisnya dengan kapasitas sampai dengan 15 ton. Operator Kelas I berwenang mengoperasikan alat dengan kapasitas lebih dari 15 ton serta dapat mengawasi dan membimbing Operator Kelas II.

KetentuanOperator Kelas IIOperator Kelas I
Pendidikan minimumSMP atau sederajatSMA atau sederajat
Pengalaman minimum1 tahun membantu pelayanan di bidangnya2 tahun membantu pelayanan di bidangnya
Usia minimum19 tahun20 tahun
Kondisi kesehatanSehat untuk bekerja berdasarkan keterangan dokterSehat untuk bekerja berdasarkan keterangan dokter
DokumenSertifikat kompetensi dan Lisensi K3Sertifikat kompetensi dan Lisensi K3
Kapasitas alatSampai dengan 15 tonLebih dari 15 ton

Operator Kelas II yang berpendidikan paling rendah SMA dapat ditingkatkan menjadi Operator Kelas I setelah memiliki pengalaman sebagai operator sesuai kelasnya paling singkat dua tahun secara terus-menerus dan lulus uji operator sesuai kualifikasinya.

Klasifikasi ini menunjukkan bahwa kelas operator tidak hanya menjadi jenjang administratif. Pembagiannya berkaitan dengan kapasitas alat, pengalaman, pendidikan, serta tanggung jawab pengawasan.

Bagaimana Cara Memperoleh Lisensi K3 Operator?

Seseorang tidak otomatis memperoleh Lisensi K3 hanya karena telah mengikuti pelatihan singkat.

Perusahaan perlu mengidentifikasi jenis dan kapasitas alat yang akan digunakan terlebih dahulu. Setelah itu, calon operator diperiksa berdasarkan persyaratan pendidikan, usia, pengalaman, kesehatan, dan kompetensi.

Pembinaan operator forklift umumnya mencakup dasar K3, pengenalan alat, kapasitas angkat, pusat beban, stabilitas, perangkat keselamatan, pemeriksaan harian, dan praktik pengoperasian.

Pembinaan dapat dilakukan melalui PJK3 bidang pesawat angkat dan pesawat angkut yang terdaftar. Perusahaan dapat memeriksa lembaga tersebut melalui halaman resmi Pencarian PJK3 TemanK3.

Berdasarkan Permenaker Nomor 8 Tahun 2020, permohonan Lisensi K3 operator diajukan oleh pengurus atau pengusaha kepada Direktur Jenderal. Dokumen pendukungnya mencakup ijazah terakhir, keterangan pengalaman kerja, surat keterangan sehat, identitas, sertifikat kompetensi sesuai jenis dan kualifikasinya, serta pasfoto.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa penerbitan lisensi bukan hanya urusan pribadi pekerja. Perusahaan memiliki peran dalam memastikan operator, dokumen, jenis alat, dan penugasannya telah sesuai.

Berapa Lama Masa Berlaku Lisensi K3 Operator?

Lisensi K3 untuk operator berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama.

Permohonan perpanjangan perlu diajukan paling lambat 30 hari sebelum masa berlaku berakhir.

Ada satu ketentuan penting yang sering terlewat. Lisensi K3 hanya berlaku selama operator bekerja di perusahaan yang mengajukan permohonan.

Apabila operator berpindah tempat kerja sebelum masa berlaku lisensinya berakhir, perubahan dapat diajukan oleh perusahaan tempat operator tersebut bekerja.

Artinya, perusahaan tidak sebaiknya hanya melihat tanggal kedaluwarsa pada kartu. Kesesuaian perusahaan pemohon, jenis alat, kelas operator, serta penugasannya juga perlu diperiksa.

Memiliki SIO Tidak Berarti Pekerjaan Otomatis Aman

Lisensi menjadi tanda kewenangan operator, tetapi keselamatan gudang tidak berhenti pada dokumen.

Forklift yang digunakan tetap perlu diperiksa sebelum beroperasi. Kondisi rem, kemudi, ban, fork, mast, rantai, klakson, lampu peringatan, sabuk pengaman, dan panel indikator tidak boleh diabaikan hanya karena alat masih dapat bergerak.

Lingkungan gudang juga sangat menentukan. Lorong yang terlalu sempit, barang yang menghalangi pandangan, lantai licin, pallet rusak, dan pejalan kaki yang masuk ke jalur forklift dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Area yang membutuhkan koordinasi lebih ketat adalah loading dock. Di area tersebut, kendaraan, pekerja, alat material handling, dan barang berada dalam ruang kerja yang berdekatan.

Operator perlu memahami kapan pekerjaan harus dihentikan. Jika berat beban tidak diketahui, muatan tidak stabil, jalur terhalang, atau komponen keselamatan alat bermasalah, target bongkar muat tidak boleh menjadi alasan untuk terus menjalankan unit.

Skill yang Dibutuhkan Operator Warehouse

Pekerjaan operator warehouse tidak hanya mengandalkan tenaga fisik. Kemampuan memahami alur kerja justru menjadi salah satu aspek terpenting.

Operator perlu memahami hubungan antara receiving, putaway, penyimpanan, picking, checking, packing, staging, dan dispatch. Kesalahan pada satu proses dapat memengaruhi seluruh tahapan berikutnya.

Ketelitian juga sangat diperlukan. Kode barang, batch, jumlah, lokasi, dan kondisi kemasan perlu diperiksa secara konsisten.

Di gudang yang menggunakan sistem digital, operator perlu mampu menggunakan barcode scanner, perangkat genggam, ERP, WMS, atau aplikasi inventaris. Mereka tidak harus memahami teknologi secara mendalam, tetapi harus mampu mengikuti instruksi dan mencatat transaksi dengan benar.

Kemampuan berkomunikasi juga tidak kalah penting. Barang rusak, selisih jumlah, pallet bermasalah, atau akses kendaraan yang terhalang perlu segera dilaporkan. Masalah kecil yang tidak disampaikan dapat berkembang menjadi keterlambatan, salah kirim, atau kerusakan barang.

Hubungan Warehouse dengan Proses Pengiriman

Barang yang telah tersimpan dengan baik belum tentu siap dikirim.

Sebelum kendaraan datang, tim gudang perlu memastikan jumlah koli, berat, dimensi, alamat tujuan, dokumen, metode packing, dan kebutuhan alat bantu sudah jelas.

Data berat dan dimensi berpengaruh terhadap pemilihan kendaraan. Barang berat membutuhkan kapasitas armada yang sesuai, sedangkan barang berdimensi besar dapat memenuhi ruang kendaraan meskipun bobot aktualnya tidak terlalu tinggi.

Koordinasi antara tim warehouse dan penyedia pengiriman membantu mengurangi waktu tunggu kendaraan, kesalahan pemilihan armada, dan pekerjaan ulang saat proses loading.

Apabila unit forklift perlu dipindahkan ke gudang, pabrik, atau lokasi proyek lain, metode pengangkutannya juga harus direncanakan berdasarkan berat, dimensi, kondisi unit, serta akses di lokasi. Informasi mengenai kebutuhan tersebut dapat dibaca pada halaman jasa pengiriman forklift.

Kebutuhan Penyimpanan Barang Bersama MUAT Cargo

Pengelolaan gudang bukan hanya soal menyediakan ruang kosong. Perusahaan perlu mempertimbangkan alur barang, pencatatan, akses kendaraan, metode penyimpanan, kesiapan packing, dan proses distribusinya.

MUAT Cargo menyediakan layanan sewa gudang di Tangerang untuk kebutuhan penyimpanan barang yang dapat disesuaikan dengan karakter serta aktivitas operasional perusahaan.

Sebelum menggunakan layanan, perusahaan sebaiknya menyampaikan jenis barang, jumlah, ukuran, durasi penyimpanan, frekuensi barang masuk dan keluar, serta kebutuhan penanganan lainnya. Informasi tersebut membantu menentukan kebutuhan ruang dan proses operasional yang lebih sesuai.

Kesimpulan

Operator warehouse adalah pekerja yang terlibat langsung dalam alur barang di dalam gudang, mulai dari penerimaan, penyimpanan, pengambilan, pengecekan, hingga persiapan pengiriman.

Namun, operator warehouse tidak selalu sama dengan operator forklift.

Pekerja yang hanya melakukan aktivitas gudang secara manual atau administratif tidak otomatis wajib mempunyai SIO. Kewajiban Lisensi K3 ditentukan berdasarkan alat yang dioperasikan dan tugas yang benar-benar dijalankan.

Ketika seorang pekerja ditugaskan mengoperasikan forklift atau pesawat angkat dan angkut lainnya, perusahaan perlu memastikan kompetensi, kelas operator, kondisi kesehatan, pengalaman, jenis alat, dan Lisensi K3 telah sesuai.

Keselamatan gudang pada akhirnya tidak hanya bergantung pada satu kartu lisensi. Operasional yang aman memerlukan pekerja yang kompeten, alat yang layak, area yang tertata, pencatatan yang akurat, dan SOP yang dijalankan secara konsisten.

FAQ tentang Operator Warehouse dan SIO

Apa yang dimaksud dengan operator warehouse?

Operator warehouse adalah pekerja yang menjalankan aktivitas operasional gudang, seperti menerima barang, menempatkan stok, melakukan picking, memeriksa pesanan, menyiapkan packing, dan membantu proses barang keluar.

Apakah operator warehouse sama dengan operator forklift?

Tidak selalu. Operator warehouse dapat menangani berbagai kegiatan gudang tanpa mengoperasikan forklift. Operator forklift memiliki tugas khusus mengoperasikan alat sesuai jenis, kapasitas, kompetensi, dan kewenangannya.

Apakah semua pekerja gudang wajib mempunyai SIO?

Tidak. SIO atau Lisensi K3 diperlukan ketika pekerja ditugaskan sebagai operator pesawat angkat atau pesawat angkut yang diatur. Pekerja yang hanya melakukan checking, packing, picking manual, atau pencatatan stok tidak otomatis wajib memilikinya.

Apa perbedaan sertifikat kompetensi dan Lisensi K3?

Sertifikat kompetensi membuktikan kemampuan seseorang di bidang tertentu. Lisensi K3 merupakan kartu tanda kewenangan untuk menjalankan tugas sebagai operator. Dalam Permenaker Nomor 8 Tahun 2020, keduanya dicantumkan sebagai persyaratan tersendiri.

Berapa lama Lisensi K3 operator forklift berlaku?

Lisensi K3 operator berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Permohonan perpanjangan perlu diajukan paling lambat 30 hari sebelum masa berlaku berakhir.

Apa perbedaan operator forklift Kelas I dan Kelas II?

Operator Kelas II berwenang mengoperasikan forklift dan peralatan sejenis dengan kapasitas sampai dengan 15 ton. Operator Kelas I berwenang mengoperasikan alat dengan kapasitas lebih dari 15 ton serta dapat mengawasi dan membimbing Operator Kelas II.

Apakah Lisensi K3 tetap berlaku setelah operator pindah perusahaan?

Lisensi K3 hanya berlaku selama operator bekerja di perusahaan yang mengajukan permohonan. Apabila operator berpindah perusahaan sebelum masa berlaku berakhir, perubahan dapat diajukan oleh perusahaan tempat operator tersebut bekerja.

Apakah pekerja yang sudah berpengalaman boleh langsung mengoperasikan forklift?

Pengalaman saja tidak cukup menjadi dasar kewenangan. Pekerja tetap perlu memenuhi persyaratan kompetensi, kesehatan, usia, pengalaman, Lisensi K3, serta klasifikasi alat yang akan dioperasikan.

ID/EN/中文
MUAT CARGO
Min. 50kg dari Jakarta, Surabaya dan MakassarDiluar origin MUAT min. kirim 100kg
Code...
MUAT EXPRESS
Khusus Pengiriman 10kg-49kg (drop off) Dari Jakarta, Tangerang & Surabaya (via udara)
Code...
CUSTOMS CLEARANCE
Wajib memiliki NIB dan data pendukung lainnyaTidak Melayani Pengiriman Undername
Code...
PENGIRIMAN FTL & FCL
Trucking & Container | Tidak melayani pengiriman dalam kota
Code...
PENGIRIMAN KENDARAAN & ALAT BERAT
Motor • Mobil • Alat Berat
Code...

Dapatkan Informasi Tarif dan Pengiriman Secara Cepat dan Tepat

*Informasi tarif layanan di bawah ini merupakan harga start from untuk masing-masing kota/kabupaten. Harga dapat berubah sewaktu-waktu, untuk detail tarif lengkap, silakan hubungi Customer Service kami