VGM Container Berat yang Harus Beres Sebelum Kontainer Naik Kapal

VGM Container: Berat yang Harus Beres Sebelum Kontainer Naik Kapal

Sebuah kontainer sudah selesai di-stuffing, pintunya sudah ditutup, dan jadwal kapal semakin dekat. Namun, masih ada satu data yang perlu dipastikan sebelum kontainer dapat masuk ke proses pemuatan kapal: VGM container atau Verified Gross Mass.

VGM adalah berat kotor peti kemas yang sudah diverifikasi. Angkanya tidak hanya berasal dari berat barang, tetapi juga memperhitungkan kemasan, pallet, material pengaman, dan berat kosong kontainer. Data inilah yang membantu kapal menyusun posisi muatan dengan mempertimbangkan berat setiap kontainer yang akan dibawa.

Bagi perusahaan yang menggunakan FCL untuk pengiriman antarpulau maupun internasional, VGM sebaiknya tidak diperlakukan sebagai administrasi di menit terakhir. Kesalahan memasukkan berat, menggunakan tare weight dari unit yang berbeda, atau terlambat menyerahkan VGM dapat mengganggu proses pemuatan kontainer.

Apa Itu VGM Container?

Verified Gross Mass atau VGM adalah berat kotor keseluruhan dari sebuah kontainer yang sudah berisi muatan dan telah ditentukan menggunakan metode verifikasi yang berlaku.

Jadi, VGM berbeda dari berat produk yang tercantum di packing list. Ketika barang menggunakan pallet, peti kayu, wrapping, dunnage, bracing, atau material pengaman lain, seluruh berat tersebut ikut membentuk berat akhir packed container.

Ketentuan ini berkaitan dengan amandemen SOLAS Regulation VI/2 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2016. International Maritime Organization (IMO) menjelaskan bahwa kesalahan deklarasi berat kontainer dapat memengaruhi keputusan penempatan muatan di kapal dan menimbulkan risiko terhadap kapal, pekerja, serta cargo yang dibawa.

Karena itu, kata verified pada VGM menjadi penting. Berat yang dilaporkan bukan sekadar perkiraan berdasarkan kapasitas kontainer atau shipment sebelumnya, melainkan berat yang telah ditentukan menggunakan metode yang diakui.

Mengapa Berat Kontainer Harus Diverifikasi?

Ketika sebuah kapal membawa banyak kontainer, posisi masing-masing unit tidak ditentukan secara acak. Berat kontainer menjadi salah satu data yang digunakan untuk membuat stowage plan atau rencana penempatan muatan di kapal.

Masalah dapat muncul ketika angka yang dilaporkan berbeda jauh dari berat sebenarnya. Kontainer yang dianggap ringan, misalnya, dapat ditempatkan berdasarkan informasi yang tidak sesuai dengan kondisi aktual. Jika hal seperti ini terjadi pada banyak unit, distribusi beban dan keamanan operasi kapal dapat ikut terpengaruh.

Itulah sebabnya IMO menempatkan tanggung jawab memperoleh dan mendokumentasikan VGM pada shipper. Data tersebut juga perlu disampaikan dalam waktu yang cukup agar dapat digunakan oleh pihak kapal dan terminal sebelum proses pemuatan berlangsung.

VGM tetap bukan jaminan otomatis bahwa sebuah kontainer pasti berangkat. Space kapal, kelengkapan dokumen, kondisi unit, cut-off terminal, dan pertimbangan operasional lain masih dapat memengaruhi apakah kontainer akhirnya dimuat pada voyage yang direncanakan.

Berat Apa Saja yang Masuk ke Dalam VGM?

Salah satu sumber kebingungan dalam perhitungan VGM adalah banyaknya istilah berat pada kontainer. Cargo weight, tare weight, payload, dan maximum gross mass menunjukkan hal yang berbeda dan sebaiknya tidak digunakan secara bergantian.

IstilahArtinyaHubungan dengan VGM
Cargo weightBerat barang yang dikirimMasuk dalam perhitungan
PackagingKarton, peti, wrapping, dan kemasan lainnyaMasuk dalam perhitungan
PalletAlas atau media unitisasi barangMasuk dalam perhitungan
Dunnage / securing materialPengganjal, bracing, lashing, atau material pengamanMasuk dalam perhitungan
Tare weightBerat kontainer dalam kondisi kosongMasuk dalam perhitungan
PayloadKapasitas muatan yang dapat dibawa kontainerBukan nilai VGM
Maximum gross massBatas berat total yang diperbolehkanBukan VGM aktual

Perbedaannya cukup sederhana. Tare weight menunjukkan berat kontainer ketika kosong, sedangkan VGM menunjukkan berat kontainer setelah seluruh muatan dan perlengkapannya diperhitungkan.

Tare weight juga tidak sebaiknya diambil dari angka rata-rata container 20 feet atau 40 feet yang ditemukan di internet. Unit dengan ukuran nominal sama dapat memiliki tare weight berbeda. Karena itu, operator seperti Maersk menyediakan pengecekan detail kontainer berdasarkan unit yang digunakan, sehingga data berat kosong dapat disesuaikan dengan kontainer aktual.

Siapa yang Bertanggung Jawab terhadap VGM?

Dalam ketentuan SOLAS, pihak yang bertanggung jawab memperoleh dan mendokumentasikan VGM adalah shipper.

Yang perlu diperhatikan, shipper dalam konteks ini tidak selalu sekadar pihak yang secara fisik memiliki barang. IMO mengaitkannya dengan pihak yang tercantum sebagai shipper pada bill of lading, sea waybill, atau dokumen transportasi multimoda yang setara, serta pihak yang membuat kontrak pengangkutan dengan shipping company.

Karena itu, posisi masing-masing pihak sebaiknya sudah jelas sejak awal shipment. Pemilik cargo, freight forwarder, transporter, terminal, dan perusahaan pelayaran dapat menjalankan fungsi yang berbeda dalam satu rangkaian pengiriman.

Penimbangan fisik sendiri bisa dilakukan melalui fasilitas terminal atau pihak lain yang memenuhi persyaratan. Namun, adanya pihak lain yang melakukan penimbangan tidak otomatis menghapus tanggung jawab shipper untuk memastikan VGM tersedia dan terdokumentasi sesuai proses pengiriman.

Dua Metode Menentukan VGM Container

SOLAS menyediakan dua metode utama untuk mendapatkan Verified Gross Mass. Keduanya sama-sama bertujuan memperoleh berat packed container yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi prosesnya berbeda.

Metode 1: Menimbang Kontainer Setelah Stuffing

Pada Method 1, kontainer ditimbang setelah seluruh barang selesai dimasukkan.

Cargo, pallet, kemasan, dunnage, securing material, dan kontainer sudah menjadi satu unit ketika penimbangan dilakukan. Hasil penimbangan tersebut menunjukkan gross mass packed container secara langsung.

Pendekatan ini dapat lebih praktis ketika berat masing-masing komponen sulit dihitung satu per satu. Meski begitu, peralatan dan proses penimbangannya tetap harus memenuhi ketentuan yang berlaku.

Metode 2: Menjumlahkan Semua Komponen

Pada Method 2, berat seluruh komponen yang dimasukkan ke kontainer ditentukan terlebih dahulu. Setelah itu, hasilnya ditambah dengan tare weight unit kontainer yang digunakan.

Secara sederhana:

VGM = berat cargo + kemasan + pallet + dunnage/securing material + tare weight kontainer

Method 2 bukan sekadar mengambil berat barang dari invoice lalu menambahkan angka tare. Berat pallet, peti, wrapping, pengganjal, dan perlengkapan pengamanan yang berada di dalam packed container juga perlu diperhitungkan.

Proses ini sangat berkaitan dengan stuffing container karena perubahan yang terjadi selama stuffing dapat mengubah berat akhir. Jika setelah perhitungan masih ada pallet, peti, atau material securing yang ditambahkan, angka VGM perlu diperiksa kembali.

Contoh Perhitungan VGM

Misalnya sebuah shipment memiliki komponen berikut. Angka ini hanya ilustrasi untuk menjelaskan perhitungannya, bukan data shipment aktual MUAT Cargo.

KomponenBerat
Barang18.500 kg
Pallet dan kemasan750 kg
Dunnage dan material securing150 kg
Tare weight kontainer2.250 kg
VGM21.650 kg

Perhitungannya menjadi:

18.500 + 750 + 150 + 2.250 = 21.650 kg

Rumusnya memang sederhana. Kesalahan biasanya justru muncul dari data yang dimasukkan, seperti pallet yang tidak ikut dihitung, tambahan bracing setelah berat ditentukan, atau penggunaan tare weight milik kontainer lain.

Karena itu, pencatatan berat sebaiknya berjalan bersamaan dengan proses persiapan barang. Semakin banyak jenis packing dan material pengaman yang digunakan, semakin penting pula memastikan setiap komponen sudah masuk ke perhitungan.

VGM Berbeda dengan Kapasitas Maksimum Kontainer

Masih ada perbedaan penting antara berapa berat kontainer saat ini dan berapa berat maksimum yang boleh dibawa kontainer tersebut.

VGM menjawab pertanyaan pertama. Maximum gross mass menunjukkan batas berat keseluruhan yang diperbolehkan pada unit tersebut. Payload, sementara itu, berkaitan dengan kemampuan kontainer membawa muatan setelah mempertimbangkan berat kosongnya.

Perbedaan ini penting terutama untuk barang berdensitas tinggi. Sebuah kontainer bisa terlihat masih mempunyai banyak ruang, tetapi dari sisi berat sudah mendekati batas yang diperbolehkan.

Karena itu, memilih container 20 feet atau 40 feet sebaiknya tidak hanya berdasarkan volume. Berat, dimensi, karakter barang, cara loading, dan kondisi akses ikut menentukan kebutuhan unit. Faktor-faktor tersebut juga dibahas dalam panduan pengiriman container sebelum booking agar penentuan unit tidak berhenti pada pertanyaan “barang ini muat atau tidak”.

Kapan VGM Harus Diserahkan?

Tidak ada satu jam VGM cut-off yang berlaku untuk seluruh carrier, terminal, dan kapal.

Prinsip SOLAS adalah VGM harus tersedia cukup awal sehingga dapat digunakan dalam penyusunan stowage plan. Carrier dan terminal kemudian menentukan batas waktu operasional sesuai shipment dan jadwal kapalnya.

Karena itu, VGM cut-off tidak sebaiknya langsung disamakan dengan closing time terminal, cut-off Shipping Instruction, atau batas gate-in. Masing-masing memiliki fungsi sendiri dan waktunya dapat berbeda.

Bagi shipper, cara yang lebih aman adalah memeriksa seluruh cut-off ketika booking dan jadwal stuffing sudah diketahui. Dengan begitu, penimbangan atau perhitungan VGM tidak baru dimulai ketika kontainer sudah mendekati batas keberangkatan.

Mengapa VGM Perlu Dicek Sebelum Cut-Off?

Kesalahan data masih mungkin terjadi meskipun proses penimbangan sudah selesai. Nomor kontainer dapat tertukar, tare weight yang digunakan salah, atau angka yang dikirim tidak sesuai dengan hasil verifikasi terakhir.

Masalah seperti ini lebih mudah diperbaiki ketika ditemukan lebih awal. Biro Klasifikasi Indonesia melalui sistem VGM-nya bahkan mengingatkan pengguna agar memeriksa kembali nilai VGM sebelum proses stowage plan berjalan karena revisi pada tahapan tertentu dapat menjadi terbatas.

Karena itu, pengecekan akhir sebaiknya tidak hanya melihat angka berat. Cocokkan juga nomor kontainer, booking atau shipment terkait, hasil verifikasi, dan data yang akan diteruskan kepada pihak yang membutuhkan.

Apa yang Terjadi Jika Kontainer Tidak Memiliki VGM?

Konsekuensi paling langsung adalah packed container tidak dapat dimuat ke kapal yang tunduk pada ketentuan SOLAS apabila VGM yang diperlukan belum tersedia.

Jika kondisi tersebut baru ditemukan menjelang keberangkatan, rencana pemuatan dapat terganggu. Kontainer mungkin perlu menunggu proses verifikasi atau kehilangan kesempatan untuk masuk ke voyage yang sebelumnya direncanakan.

Efek berikutnya sangat bergantung pada kondisi shipment. Keterlambatan dapat berujung pada perubahan jadwal dan, dalam situasi tertentu, biaya tambahan sesuai kebijakan terminal, carrier, free time, serta kontrak pengiriman.

Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa kesalahan VGM otomatis menghasilkan demurrage, detention, atau storage. VGM yang terlambat adalah pemicu gangguan operasional; jenis biaya yang kemudian muncul harus dilihat berdasarkan apa yang benar-benar terjadi pada kontainer tersebut.

Aturan VGM Container di Indonesia

Di Indonesia, ketentuan mengenai kelaikan peti kemas dan berat kotor peti kemas terverifikasi saat ini diatur melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2022.

JDIH Kementerian Perhubungan mencatat PM 25 Tahun 2022 masih berstatus berlaku dan mencabut PM 53 Tahun 2018. Artinya, panduan lama yang masih menjadikan PM 53/2018 sebagai aturan Indonesia terkini perlu diperbarui.

Untuk shipment internasional, aturan nasional tersebut berada dalam konteks persyaratan keselamatan SOLAS. Sementara mekanisme penimbangan, penyampaian data, cut-off, hingga pihak yang terlibat tetap perlu mengikuti ketentuan yang berlaku pada carrier, terminal, dan shipment yang digunakan.

Hubungan VGM dengan Stuffing dan Pengiriman FCL

Pada pengiriman Full Container Load (FCL), hubungan antara stuffing dan VGM cukup dekat. Berat akhir packed container baru bisa dipastikan setelah seluruh muatan serta perlengkapannya diketahui.

Secara sederhana, prosesnya berjalan seperti ini:

Data barang → pemilihan container → stuffing → penentuan VGM → pengecekan data → penyampaian VGM → stowage dan loading

Urutan tersebut menunjukkan mengapa perubahan pada tahap stuffing tidak boleh dipandang terpisah dari VGM. Menambah barang, pallet, peti kayu, bracing, atau securing material berarti berat akhir ikut berubah.

Untuk itu, ketika merencanakan pengiriman kontainer FCL, informasi yang disiapkan sebaiknya lebih lengkap daripada sekadar “butuh container 20 feet”. Jenis barang, jumlah koli, berat, dimensi, metode packing, lokasi asal-tujuan, serta kebutuhan loading memberi dasar yang jauh lebih baik untuk menentukan proses pengiriman.

Bagaimana dengan Pengiriman LCL?

Pada pengiriman Less Container Load (LCL), satu kontainer dapat berisi barang dari beberapa pengirim. Karena itu, posisi pemilik individual cargo tidak selalu sama dengan pihak yang menjadi shipper untuk packed container dalam dokumen pengangkutan.

Tanggung jawab VGM tetap perlu dilihat berdasarkan struktur kontrak dan dokumen yang digunakan. Namun, hal tersebut bukan berarti pemilik barang LCL boleh memberikan berat secara sembarangan.

Berat masing-masing shipment tetap dibutuhkan untuk konsolidasi, handling, dokumentasi, dan perencanaan muatan. Data yang akurat sejak awal akan membantu mengurangi koreksi ketika barang sudah masuk ke proses konsolidasi.

Data yang Sebaiknya Siap Sebelum Pengiriman Container

Sebelum kontainer masuk tahap akhir persiapan, beberapa data sebaiknya sudah saling konsisten: nomor kontainer aktual, jenis dan jumlah barang, berat cargo, jenis packing, berat pallet atau peti, securing material, tare weight, metode penentuan VGM, nomor booking, dan cut-off yang diberikan carrier atau terminal.

Jika proses pengiriman melibatkan warehouse, purchasing, transporter, forwarder, dan tim administrasi sekaligus, gunakan satu sumber data shipment yang sama. Kesalahan sederhana seperti nomor kontainer tertukar dapat membuat hasil VGM yang sebenarnya benar justru terhubung ke unit yang salah.

Tahap ini juga dapat digunakan untuk mengecek kembali kebutuhan handling. Barang berat, mesin, material proyek, atau cargo berdimensi besar mungkin membutuhkan pendekatan loading dan akses kendaraan yang berbeda dari barang kartonan biasa.

Peran MUAT Cargo dalam Perencanaan Pengiriman Container

MUAT Cargo melayani kebutuhan pengiriman menggunakan FCL 20 feet, 40 feet, dan High Cube sesuai rute serta karakter shipment. Sebelum unit ditentukan, data seperti jenis barang, berat, dimensi, lokasi asal-tujuan, kondisi akses, dan kebutuhan loading perlu diketahui terlebih dahulu.

Dalam konteks VGM, MUAT Cargo tidak perlu diposisikan sebagai pihak yang otomatis melakukan sertifikasi atau mengesahkan berat kontainer. Tanggung jawab dan mekanisme verifikasinya tetap mengikuti shipper, pihak penimbang atau verifier yang digunakan, terminal, carrier, dan regulasi terkait.

Nilai praktisnya justru berada pada perencanaan shipment sejak awal. Ketika data cargo sudah lengkap, kebutuhan container, stuffing, handling, dan tahapan menuju pelabuhan dapat dibahas lebih jelas sehingga masalah berat tidak baru ditemukan menjelang kapal berangkat.

Kesimpulan

VGM container bukan sekadar berat cargo yang disalin dari packing list. Nilainya mewakili berat aktual packed container setelah barang, kemasan, pallet, material pengamanan, dan tare weight diperhitungkan melalui metode verifikasi yang berlaku.

Karena data tersebut digunakan dalam perencanaan pemuatan kapal, shipper perlu memperhatikan metode penentuan berat, unit kontainer yang digunakan, ketepatan dokumen, dan VGM cut-off sejak shipment masih berada pada tahap persiapan.

Jika Anda sedang merencanakan penggunaan satu kontainer khusus, siapkan jenis barang, jumlah, berat, dimensi, packing, lokasi asal-tujuan, dan kebutuhan loading sejak awal. Data tersebut akan membantu mengevaluasi kebutuhan pengiriman FCL bersama MUAT Cargo sebelum kontainer masuk ke tahapan operasional berikutnya.

Picture of Nizar Alwan

Nizar Alwan

SEO Specialist di industri ekspedisi dan logistik yang berpengalaman menganalisis kebutuhan pengiriman barang, karakteristik rute, jenis layanan cargo, serta pertimbangan biaya, waktu, dan penanganan barang. Memadukan pemahaman operasional logistik dengan riset kata kunci, audit teknis, analisis pencarian, dan strategi konten agar informasi pengiriman lebih akurat, mudah dipahami, dan mudah ditemukan melalui Google.
ID/EN/中文
MUAT CARGO
Min. 50kg dari Jakarta, Surabaya dan MakassarDiluar origin MUAT min. kirim 100kg
Code...
MUAT EXPRESS
Khusus Pengiriman 10kg-49kg (drop off) Dari Jakarta, Tangerang & Surabaya (via udara)
Code...
CUSTOMS CLEARANCE
Wajib memiliki NIB dan data pendukung lainnyaTidak Melayani Pengiriman Undername
Code...
PENGIRIMAN FTL & FCL
Trucking & Container | Tidak melayani pengiriman dalam kota
Code...
PENGIRIMAN KENDARAAN & ALAT BERAT
Motor • Mobil • Alat Berat
Code...

Dapatkan Informasi Tarif dan Pengiriman Secara Cepat dan Tepat

*Informasi tarif layanan di bawah ini merupakan harga start from untuk masing-masing kota/kabupaten. Harga dapat berubah sewaktu-waktu, untuk detail tarif lengkap, silakan hubungi Customer Service kami