Multi-Drop Delivery: Kirim ke Banyak Tujuan Lebih Efisien?
Bayangkan sebuah perusahaan perlu mengirim stok dari satu gudang ke beberapa cabang sekaligus. Sekilas, cara paling sederhana adalah memasukkan seluruh barang ke satu truk, lalu mengantarkannya satu per satu ke setiap tujuan.
Pola seperti ini dikenal sebagai multi-drop delivery.
Cara ini memang bisa membuat distribusi lebih praktis karena satu kendaraan dapat melayani beberapa tujuan dalam satu perjalanan. Namun, multi-drop tidak otomatis menjadi pilihan paling murah atau paling cepat.
Masalah biasanya mulai muncul ketika setiap tujuan punya kondisi berbeda. Ada gudang yang hanya menerima barang pada jam tertentu, lokasi yang sulit dimasuki kendaraan besar, proses bongkar yang membutuhkan forklift, atau penerima yang ternyata belum siap saat kendaraan tiba.
Karena itu, multi-drop sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cara menggabungkan banyak alamat ke dalam satu perjalanan. Yang lebih penting adalah memastikan semua tujuan tersebut memang cocok dimasukkan ke dalam satu rute.
Apa Itu Multi-Drop Delivery?
Multi-drop delivery adalah pola pengiriman dari satu titik asal menuju beberapa titik tujuan menggunakan satu kendaraan dalam satu perjalanan.
Contohnya, sebuah gudang di Jakarta memiliki stok untuk empat cabang. Satu truk membawa seluruh barang tersebut, lalu melakukan pengiriman secara berurutan ke Cabang A, Cabang B, Cabang C, dan Cabang D.
Pola ini berbeda dengan pengiriman single-drop, ketika satu kendaraan membawa barang ke satu tujuan utama saja.
Multi-drop juga berbeda dengan milk run logistics.
Pada multi-drop, pola pergerakannya adalah satu titik asal menuju banyak titik pengiriman. Sedangkan milk run umumnya digunakan untuk mengunjungi beberapa titik pickup sebelum barang dibawa ke fasilitas atau tujuan berikutnya.
Arah pergerakan barangnya berbeda, sehingga cara merencanakan perjalanan juga tidak sama.
Apakah Multi-Drop Selalu Lebih Hemat?
Belum tentu. Menggunakan satu kendaraan untuk beberapa tujuan memang dapat mengurangi kebutuhan mengirim kendaraan terpisah. Namun, perjalanan multi-drop juga membawa biaya dan risiko tambahan.
- jarak perjalanan bisa menjadi lebih panjang;
- kendaraan harus berhenti dan bongkar berkali-kali;
- ada kemungkinan menunggu di lokasi penerima;
- sebagian tujuan membutuhkan proses handling lebih lama;
- satu keterlambatan dapat memengaruhi tujuan berikutnya;
- barang yang gagal diterima mungkin perlu dikirim ulang.
Jadi, jangan hanya membandingkan jumlah kendaraan yang digunakan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah semua tujuan tersebut memang lebih masuk akal jika digabungkan dalam satu rute?
Sebelum Menggunakan Multi-Drop, Cek Dulu Kelayakan Rutenya
Tidak semua kumpulan alamat cocok dijadikan satu perjalanan. Sebelum menentukan rute, ada beberapa hal sederhana yang perlu diperiksa.
1. Apakah tujuan berada dalam arah yang masuk akal?
Misalnya ada lima tujuan yang semuanya berada dalam satu koridor perjalanan. Kondisi seperti ini biasanya lebih mudah direncanakan.
Sebaliknya, jika dua tujuan berada ke arah barat sedangkan tiga tujuan lainnya jauh ke timur, memaksakan semuanya dalam satu perjalanan bisa membuat rute terlalu panjang.
Dalam kondisi seperti itu, membagi pengiriman menjadi dua rute justru bisa lebih efisien.
2. Apakah semua barang muat dalam satu kendaraan?
Total berat dan volume tetap harus diperhitungkan. Namun, kapasitas bukan satu-satunya pertimbangan. Kendaraan yang cukup besar untuk membawa seluruh barang juga harus bisa masuk ke semua lokasi tujuan.
3. Apakah jam penerimaan setiap tujuan cocok?
Tidak semua gudang atau toko menerima barang sepanjang hari.
Ada lokasi yang menerima barang hanya pada pagi hari. Ada pula yang baru bisa menerima setelah jam tertentu.
Jika waktu penerimaan saling bertabrakan, satu kendaraan mungkin sulit melayani semua tujuan sesuai jadwal.
4. Bagaimana proses bongkar di setiap lokasi?
Beberapa lokasi bisa membongkar barang dengan cepat. Lokasi lain mungkin membutuhkan forklift, helper tambahan, pemeriksaan dokumen, atau antrean di area bongkar. Semua itu perlu masuk dalam perhitungan perjalanan.
5. Apa yang dilakukan jika salah satu tujuan gagal menerima barang?
Ini sering terlupakan. Sebelum kendaraan berangkat, sebaiknya sudah jelas apakah kendaraan harus menunggu, melanjutkan perjalanan, membawa barang kembali, atau menjadwalkan pengiriman ulang.
Keputusan tersebut bisa memengaruhi seluruh rute.
Tujuan Terdekat Belum Tentu Harus Didatangi Pertama
Saat melihat peta, sangat wajar jika kita ingin mengunjungi lokasi yang paling dekat terlebih dahulu.
Namun dalam multi-drop, jarak bukan satu-satunya pertimbangan.
Misalnya Cabang A hanya berjarak 5 km dari gudang, tetapi baru menerima barang mulai pukul 13.00. Cabang B berjarak 10 km, tetapi penerimaan barang ditutup pukul 11.00.
Kalau kendaraan menuju Cabang A lebih dulu hanya karena lebih dekat, pengemudi mungkin justru harus menunggu. Akibatnya, Cabang B bisa terlewat dari jam penerimaan.
Inilah mengapa penyusunan rute perlu memperhatikan time window, yaitu rentang waktu ketika suatu lokasi dapat menerima pengiriman.
Dokumentasi Google Route Optimization tentang time windows juga menggunakan batas waktu tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam perencanaan pickup dan delivery.
Jadi, urutan perjalanan sebaiknya melihat kombinasi jarak, jam penerimaan, waktu bongkar, akses lokasi, dan susunan barang, bukan jarak saja.
Jangan Hanya Menghitung Waktu Perjalanan
Misalnya aplikasi peta memperkirakan perjalanan dari gudang ke empat tujuan membutuhkan total tiga jam. Apakah artinya perjalanan selesai dalam tiga jam? Belum tentu.
Ada tiga jenis waktu yang perlu dibedakan.
Travel time
Waktu kendaraan bergerak dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.
Waiting time
Waktu ketika kendaraan sudah tiba, tetapi belum bisa melakukan bongkar. Contohnya karena gudang masih penuh, antrean kendaraan, atau PIC penerima belum tersedia.
Service time
Waktu yang benar-benar diperlukan untuk menyelesaikan aktivitas di lokasi, misalnya pemeriksaan dokumen, membuka kendaraan, menurunkan barang, menghitung koli, pemeriksaan barang, tanda tangan penerimaan, dan menutup kembali kendaraan.
Dokumentasi Google Route Optimization juga memisahkan durasi pelayanan pada setiap kunjungan dari waktu kendaraan berpindah antarlokasi.
Pada multi-drop, tambahan waktu 20 atau 30 menit di satu lokasi dapat ikut menggeser jadwal semua tujuan berikutnya.
Karena itu, estimasi perjalanan sebaiknya tidak hanya berasal dari waktu yang terlihat di aplikasi peta.
Kendaraan yang Cukup Besar Belum Tentu Cocok untuk Semua Tujuan
Ini salah satu bagian yang sering terlewat.
Misalnya total barang membutuhkan kendaraan berukuran besar.
Untuk tujuan pertama dan kedua tidak ada masalah karena keduanya berupa gudang dengan akses jalan lebar. Namun tujuan ketiga berada di kawasan pertokoan dengan akses sempit dan ruang putar terbatas.
Secara kapasitas, kendaraannya cocok. Tetapi secara operasional, rutenya mungkin tidak cocok.
Karena itu, ketika memilih jenis armada trucking, jangan hanya melihat total berat dan volume barang.
Periksa juga lebar akses jalan, tinggi gerbang, ruang parkir dan ruang putar, aturan kendaraan di lokasi, fasilitas bongkar, serta karakter barang yang dibawa.
Dalam satu perjalanan multi-drop, justru lokasi yang paling sulit diakses bisa menentukan jenis kendaraan yang bisa digunakan untuk seluruh rute.
Susunan Barang Juga Harus Mengikuti Urutan Pengiriman
Sekarang bayangkan barang untuk Cabang A berada paling belakang, tertutup barang milik Cabang B, C, dan D.
Saat tiba di Cabang A, kru harus memindahkan sebagian barang terlebih dahulu agar muatan Cabang A bisa keluar.
Selain membuang waktu, kondisi seperti ini juga meningkatkan risiko barang tertukar atau rusak.
Karena itu, urutan loading sebaiknya sudah disesuaikan dengan rencana perjalanan.
Secara sederhana, barang yang akan diturunkan lebih dulu sebaiknya mudah dijangkau lebih dulu.
Pada beberapa kondisi, prinsip ini bisa menyerupai LIFO atau last in, first out. Namun LIFO tidak harus diterapkan secara kaku.
Barang pallet, mesin, barang panjang, barang berat, posisi pintu kendaraan, hingga penggunaan forklift dapat membuat cara loading berbeda.
Yang penting bukan mengikuti istilah teknisnya, tetapi memastikan barang setiap tujuan bisa dibongkar tanpa mengganggu barang untuk tujuan berikutnya.
Jangan Cuma Berikan Daftar Alamat ke Pengemudi
Untuk pengiriman multi-drop, alamat saja belum cukup.
Setiap tujuan sebaiknya mempunyai informasi yang jelas. Sederhananya, buat semacam drop sheet untuk setiap lokasi.
- alamat bongkar yang benar;
- nama dan nomor PIC;
- nama barang;
- jumlah koli;
- berat atau volume;
- jam penerimaan;
- perkiraan waktu bongkar;
- akses kendaraan;
- kebutuhan forklift atau helper;
- dokumen yang perlu diberikan;
- bukti penerimaan yang diperlukan;
- instruksi jika penerima tidak tersedia.
Kenapa harus sedetail itu? Karena alamat perusahaan belum tentu sama dengan lokasi sebenarnya tempat kendaraan harus melakukan bongkar.
Kadang kantor berada di depan, tetapi barang harus masuk melalui gudang yang mempunyai pintu berbeda.
Dokumen operasional seperti Delivery Order juga perlu disesuaikan dengan tujuan barang agar tim pengiriman dan penerima memiliki informasi yang sama.
Bukti Pengiriman Sebaiknya Dicatat untuk Setiap Tujuan
Dalam single-drop, satu perjalanan biasanya selesai setelah barang diterima di satu lokasi.
Multi-drop berbeda.
Misalnya satu kendaraan memiliki empat tujuan. Setelah dua tujuan selesai, statusnya bisa seperti ini:
- Cabang A: barang diterima;
- Cabang B: barang diterima;
- Cabang C: penerima tidak tersedia;
- Cabang D: belum dikunjungi.
Artinya, status perjalanan kendaraan dan status setiap pengiriman tidak selalu sama.
Karena itu, Proof of Delivery atau POD sebaiknya dikelola untuk masing-masing tujuan.
POD dapat membantu perusahaan memastikan barang benar-benar telah diterima oleh pihak yang tepat dan mempermudah rekonsiliasi setelah kendaraan kembali.
Apa yang Terjadi Jika Satu Tujuan Gagal?
Ini salah satu alasan mengapa multi-drop perlu direncanakan dengan hati-hati.
Bayangkan kendaraan tiba di tujuan kedua, tetapi gudang penerima belum bisa menerima barang.
Ada beberapa kemungkinan: pengemudi menunggu, kendaraan melanjutkan perjalanan, barang dibawa kembali, atau pengiriman dijadwalkan ulang.
Masing-masing mempunyai konsekuensi.
Jika menunggu terlalu lama, tujuan berikutnya bisa terlambat. Jika kendaraan melanjutkan perjalanan, barang tujuan kedua tetap berada di dalam kendaraan dan mungkin mengganggu proses bongkar berikutnya. Jika barang harus dikirim ulang, akan ada tambahan perjalanan.
Karena itu, sebaiknya ada keputusan yang sudah disepakati sejak awal mengenai apa yang harus dilakukan jika terjadi failed drop.
Tidak perlu rumit. Yang penting pengemudi dan tim operasional tahu apakah harus menunggu, melanjutkan perjalanan, membawa barang kembali, atau menjadwalkan ulang.
Multi-Drop atau Pengiriman Terpisah?
Punya banyak tujuan tidak selalu berarti harus memakai satu kendaraan.
Ada beberapa pola yang bisa dibandingkan.
Multi-drop
Cocok dipertimbangkan ketika beberapa tujuan berada dalam satu arah atau area yang relatif berdekatan.
Contohnya: Gudang pusat → Cabang A → Cabang B → Cabang C.
Split route
Cocok ketika tujuan terbagi ke arah yang berbeda.
Misalnya tiga tujuan berada di Jakarta Barat, sementara tiga lainnya berada jauh ke Jakarta Timur dan Bekasi. Dua kendaraan dengan dua rute yang lebih sederhana mungkin lebih masuk akal.
Dedicated single-drop
Jika satu tujuan membawa sebagian besar volume barang, kendaraan khusus ke satu tujuan bisa lebih praktis.
Cargo LTL atau konsolidasi
Jika volume setiap tujuan relatif kecil dan tersebar ke beberapa kota, pengiriman menggunakan layanan cargo gabungan dapat menjadi opsi yang perlu dibandingkan.
Long-haul lalu distribusi lokal
Untuk tujuan jauh, perjalanan juga bisa dibagi menjadi dua tahap.
Misalnya barang dibawa terlebih dahulu menuju satu kota atau hub, kemudian dibagikan ke beberapa tujuan lokal.
Tidak ada satu pola yang selalu benar. Pilihan terbaik bergantung pada barang, lokasi, kapasitas, jadwal, dan kebutuhan penerima.
Multi-Drop Juga Tidak Selalu Menjadi Pilihan Paling Murah
Misalnya satu kendaraan digunakan untuk lima tujuan. Biayanya bukan hanya biaya kendaraan dari titik awal.
Perlu dipertimbangkan juga:
- jarak keseluruhan;
- tol atau penyeberangan bila ada;
- waktu perjalanan;
- jumlah titik bongkar;
- kebutuhan helper;
- fasilitas handling;
- waktu tunggu;
- kemungkinan pengiriman ulang;
- barang yang harus dibawa kembali.
Karena itu, perbandingan sebaiknya dilakukan berdasarkan total kebutuhan perjalanan, bukan hanya tarif awal kendaraan.
Kadang satu rute multi-drop memang lebih efisien. Namun pada kasus lain, dua rute yang lebih pendek bisa memberi biaya dan waktu yang lebih terkendali.
Apakah Banyak Titik Bongkar Berarti Banyak Rit?
Tidak selalu.
Dalam operasional trucking, ritase biasanya digunakan untuk menghitung siklus atau perjalanan kendaraan.
Sedangkan drop mengacu pada jumlah titik pengantaran dalam perjalanan tersebut.
Artinya, satu perjalanan bisa saja memiliki beberapa titik bongkar. Contohnya: Gudang → A → B → C → kembali.
Namun semakin banyak drop, semakin besar kemungkinan perjalanan membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, jumlah titik tetap perlu diperhitungkan ketika menilai produktivitas kendaraan.
Bagaimana Mengetahui Multi-Drop Berjalan Efisien?
Tidak harus menggunakan software yang rumit. Spreadsheet sederhana pun sudah cukup untuk mulai mengevaluasi perjalanan.
Berapa tujuan yang berhasil diselesaikan?
Jika direncanakan enam tujuan tetapi hanya empat yang selesai, cari tahu penyebab dua lainnya gagal.
Berapa banyak yang berhasil pada kunjungan pertama?
Semakin sering kendaraan harus kembali ke tujuan yang sama, semakin tinggi biaya dan waktu yang terbuang.
Berapa lama rata-rata proses bongkar?
Data ini membantu membuat estimasi perjalanan berikutnya lebih realistis.
Di mana kendaraan paling sering menunggu?
Jika satu gudang selalu menyebabkan antrean satu jam, lokasi tersebut mungkin perlu ditempatkan pada jadwal yang berbeda.
Apakah semua POD lengkap?
Pastikan setiap barang yang sudah dikirim mempunyai bukti penerimaan yang sesuai.
Berapa biaya per tujuan yang berhasil dikirim?
Perbandingan sederhana ini dapat membantu melihat apakah satu rute multi-drop memang lebih efisien daripada beberapa perjalanan terpisah.
Kapan Multi-Drop Sebaiknya Tidak Dipaksakan?
Multi-drop biasanya lebih mudah diterapkan jika tujuan berada dalam jalur yang relatif sama, jam penerimaannya tidak saling bertabrakan, dan satu kendaraan bisa mengakses semua lokasi.
Sebaliknya, pertimbangkan untuk memisahkan perjalanan jika:
- tujuan berada di arah yang sangat berbeda;
- waktu penerimaan saling bertabrakan;
- beberapa lokasi tidak bisa dimasuki kendaraan yang sama;
- proses bongkar sangat berbeda;
- satu tujuan membawa sebagian besar muatan;
- kegagalan satu tujuan berisiko mengganggu seluruh perjalanan.
Pada akhirnya, efisiensi bukan berarti memasukkan sebanyak mungkin titik ke satu kendaraan.
Efisiensi berarti memilih pola pengiriman yang paling masuk akal untuk barang, tujuan, waktu, dan kondisi lapangan.
Bagaimana Multi-Drop Relevan dengan Pengiriman Trucking MUAT Cargo?
Untuk kebutuhan distribusi barang dalam jumlah besar, MUAT Cargo memiliki layanan pengiriman trucking dengan pemilihan kendaraan yang mempertimbangkan karakter barang, berat dan dimensi, rute, serta akses lokasi.
Jika kebutuhan pengiriman melibatkan beberapa tujuan, sebaiknya sampaikan seluruh informasi sejak awal, bukan hanya titik keberangkatan dan kota tujuan.
Misalnya:
- jumlah lokasi pengiriman;
- alamat setiap titik;
- berat dan volume barang untuk masing-masing lokasi;
- jenis barang;
- jam penerimaan;
- kondisi akses kendaraan;
- kebutuhan bongkar;
- prioritas pengiriman.
Dari informasi tersebut, kebutuhan dapat dievaluasi apakah lebih masuk akal menggunakan satu perjalanan, beberapa kendaraan, atau pola pengiriman lainnya.
Perlu dicatat, multi-drop tidak perlu dianggap sebagai produk dengan pola yang sama untuk setiap pengiriman. Jumlah titik, jenis kendaraan, rute, kondisi barang, serta kebutuhan operasional dapat berbeda dari satu pengiriman ke pengiriman lainnya.
Karena itu, kelayakan rute dan ketersediaan layanan tetap perlu dikonfirmasi berdasarkan kebutuhan aktual.
Checklist Sebelum Menjalankan Pengiriman Multi-Drop
Sebelum kendaraan berangkat, coba cek kembali:
- apakah seluruh alamat bongkar sudah benar;
- apakah PIC setiap tujuan dapat dihubungi;
- apakah barang sudah dipisahkan berdasarkan tujuan;
- apakah jumlah koli tiap tujuan sudah jelas;
- apakah kendaraan bisa masuk ke seluruh lokasi;
- apakah jam penerimaan sudah diketahui;
- apakah urutan rute sudah sesuai;
- apakah susunan barang mendukung urutan bongkar;
- apakah dokumen setiap tujuan sudah tersedia;
- apakah kebutuhan POD sudah jelas;
- apakah ada instruksi jika salah satu tujuan gagal menerima barang.
Checklist sederhana ini dapat mencegah banyak masalah yang sebenarnya bisa diketahui sebelum kendaraan meninggalkan gudang.
Kesimpulan
Multi-drop delivery bisa menjadi cara praktis untuk mengirim barang dari satu titik asal ke beberapa tujuan dalam satu perjalanan.
Namun jangan langsung menganggap satu kendaraan untuk banyak tujuan pasti menjadi pilihan paling efisien.
Periksa terlebih dahulu apakah lokasi tujuan memang searah, kapasitas kendaraan cukup, akses setiap lokasi memungkinkan, jam penerimaan cocok, dan barang bisa disusun sesuai urutan pengiriman.
Jangan lupa memperhitungkan waktu bongkar, waktu tunggu, dokumen, POD, serta kemungkinan jika salah satu tujuan tidak dapat menerima barang.
Sebelum memilih multi-drop, gunakan satu pertanyaan sederhana: “Apakah semua tujuan ini memang lebih masuk akal dilayani dalam satu perjalanan?”
Jika jawabannya belum jelas, memisahkan rute justru bisa menjadi pilihan yang lebih aman dan efisien.
Untuk pengiriman barang besar atau kebutuhan distribusi ke beberapa lokasi, kebutuhan trucking MUAT Cargo dapat dikonsultasikan berdasarkan karakter barang, jumlah muatan, rute, akses lokasi, dan kondisi pengiriman yang sebenarnya.
FAQ tentang Multi-Drop Delivery
Apa itu multi-drop delivery?
Multi-drop delivery adalah pola pengiriman ketika satu kendaraan membawa barang dari satu lokasi asal menuju beberapa tujuan dalam satu perjalanan.
Apa perbedaan multi-drop dengan milk run?
Multi-drop umumnya membawa barang dari satu titik asal ke beberapa tujuan. Milk run biasanya mengunjungi beberapa titik pickup untuk mengumpulkan barang sebelum dibawa ke fasilitas atau tujuan berikutnya.
Apakah multi-drop selalu lebih murah?
Tidak. Biaya tetap dipengaruhi jarak, jumlah titik bongkar, waktu tunggu, proses handling, kendaraan yang digunakan, dan kemungkinan pengiriman ulang.
Bagaimana menentukan urutan pengiriman multi-drop?
Jangan hanya melihat tujuan terdekat. Pertimbangkan juga jam penerimaan, kondisi lalu lintas, waktu bongkar, akses kendaraan, serta urutan barang di dalam kendaraan.
Apa saja yang perlu disiapkan sebelum pengiriman multi-drop?
Minimal siapkan alamat bongkar, PIC, jenis dan jumlah barang, berat atau volume per tujuan, jam penerimaan, akses kendaraan, kebutuhan bongkar, dokumen, serta kebutuhan bukti penerimaan.
Apakah satu perjalanan multi-drop dihitung sebagai beberapa rit?
Tidak otomatis. Ritase mengacu pada siklus atau perjalanan kendaraan, sedangkan drop adalah jumlah titik pengantaran di dalam perjalanan tersebut.