
Apa Itu MSDS? Fungsi, 16 Bagian SDS, dan Perannya dalam Pengiriman
Ketika akan mengirim bahan kimia, cairan industri, baterai, aerosol, mesin yang masih mengandung cairan tertentu, atau produk lain dengan karakter khusus, nama barang saja belum tentu cukup untuk menentukan bagaimana barang tersebut harus ditangani. Salah satu dokumen yang dapat membantu menjelaskan sifat, potensi bahaya, hingga informasi transportasi suatu produk adalah MSDS atau Material Safety Data Sheet.
Saat ini, istilah yang lebih umum digunakan dalam sistem komunikasi bahaya modern adalah SDS atau Safety Data Sheet. Dokumen ini bukan hanya berguna bagi bagian K3 atau pekerja yang menangani bahan kimia. Dalam konteks logistik, informasi di dalam SDS juga dapat membantu proses screening sebelum suatu barang diterima untuk pengiriman.
Namun, memiliki SDS bukan berarti barang otomatis dapat dikirim melalui semua moda atau semua penyedia logistik. Klasifikasi barang, kondisi aktual, kemasan, jumlah, rute, moda, operator, dan ketentuan yang berlaku tetap perlu diperiksa.
Prinsip tersebut juga relevan dalam proses pemeriksaan barang di MUAT Cargo. Barang dengan karakter khusus tidak sebaiknya langsung dijadwalkan pickup sebelum jenis barang, kondisi kemasan, berat, dimensi, asal-tujuan, dan dokumen pendukungnya diketahui dengan cukup jelas.
Apa Itu MSDS?
MSDS adalah singkatan dari Material Safety Data Sheet, yaitu dokumen yang berisi informasi mengenai karakteristik dan keselamatan suatu bahan atau produk. Informasi tersebut dapat mencakup identitas produk, komposisi, jenis bahaya, pertolongan pertama, tindakan saat terjadi kebakaran atau tumpahan, penyimpanan, pengendalian paparan, hingga informasi mengenai pengangkutan.
Istilah MSDS masih banyak digunakan dalam praktik. Namun, dalam kerangka Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals atau GHS, istilah yang digunakan adalah Safety Data Sheet atau SDS.
Kerangka GHS Revision 11 dari UNECE mencakup klasifikasi bahan kimia berdasarkan jenis bahaya serta elemen komunikasi bahaya yang terharmonisasi, termasuk label dan Safety Data Sheets.
Di Indonesia, dikenal pula istilah Lembar Data Keselamatan Bahan atau LDKB. KEP.187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja masih tercatat berstatus berlaku dan mengatur penyediaan LDKB dalam konteks pengendalian bahan kimia berbahaya di tempat kerja.
Dengan demikian, MSDS, SDS, dan LDKB berada dalam konteks yang sangat berdekatan. Bagi pemilik barang, yang paling penting bukan hanya istilah yang tertulis di bagian atas dokumen, tetapi memastikan dokumen tersebut benar-benar sesuai dengan produk yang akan ditangani.
MSDS, SDS, dan LDKB: Apa Bedanya?
| Istilah | Kepanjangan | Penggunaan |
|---|---|---|
| MSDS | Material Safety Data Sheet | Istilah yang masih umum digunakan dalam praktik |
| SDS | Safety Data Sheet | Terminologi yang digunakan dalam kerangka GHS modern |
| LDKB | Lembar Data Keselamatan Bahan | Istilah Bahasa Indonesia yang digunakan dalam regulasi Indonesia |
Perbedaan istilah tersebut tidak berarti setiap dokumen yang masih menggunakan nama MSDS otomatis tidak dapat digunakan. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian dokumen dengan produk aktual, isi informasinya, serta relevansi revisinya.
Dua produk yang mempunyai fungsi serupa dapat memiliki formula, konsentrasi, sifat fisik, dan karakter transportasi yang berbeda. Karena itu, SDS produk lain tidak sebaiknya digunakan hanya karena nama atau penggunaannya terlihat mirip.
Mengapa SDS Penting?
Fungsi utama SDS adalah menyampaikan informasi keselamatan bahan secara terstruktur. Dengan dokumen ini, pihak yang menangani produk tidak perlu hanya mengandalkan nama dagang, bentuk kemasan, atau asumsi terhadap jenis barang.
Dalam konteks Indonesia, KEP.187/MEN/1999 memuat informasi LDKB seperti identitas bahan, komposisi, identifikasi bahaya, pertolongan pertama, penanggulangan kebakaran, tindakan terhadap tumpahan, penyimpanan, sifat fisika-kimia, toksikologi, hingga informasi pengangkutan.
Bagi pengirim, informasi tersebut dapat membantu menjawab pertanyaan yang lebih praktis. Apakah barang memiliki karakter bahaya tertentu? Apakah ada perhatian khusus pada penyimpanan? Apakah terdapat risiko kebocoran atau reaksi tertentu? Apakah tersedia informasi transportasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut?
Karena itu, SDS lebih berguna ketika dibaca sebelum barang dijadwalkan pickup atau masuk ke proses operasional.
Apa Saja 16 Bagian dalam SDS?
Format SDS modern menggunakan struktur 16 bagian agar informasi dapat ditemukan secara lebih konsisten. Struktur LDKB Indonesia juga mencakup kelompok informasi yang sejalan, termasuk pengangkutan dan informasi peraturan.
| Bagian | Isi Utama | Relevansi Praktis |
|---|---|---|
| 1. Identification | Identitas produk dan pihak terkait | Memastikan SDS sesuai dengan barang |
| 2. Hazard Identification | Klasifikasi dan jenis bahaya | Screening risiko awal |
| 3. Composition / Ingredients | Komposisi bahan | Memahami kandungan produk |
| 4. First-Aid Measures | Pertolongan pertama | Respons terhadap paparan |
| 5. Fire-Fighting Measures | Penanganan kebakaran | Panduan kondisi darurat |
| 6. Accidental Release Measures | Penanganan tumpahan atau kebocoran | Penting untuk barang yang berpotensi bocor |
| 7. Handling and Storage | Penanganan dan penyimpanan | Memahami batasan handling |
| 8. Exposure Controls / PPE | Pengendalian paparan dan APD | Keselamatan pihak yang menangani |
| 9. Physical and Chemical Properties | Sifat fisika dan kimia | Memahami karakter bahan |
| 10. Stability and Reactivity | Stabilitas dan reaktivitas | Menilai potensi reaksi atau incompatibility |
| 11. Toxicological Information | Informasi toksikologi | Memahami risiko kesehatan |
| 12. Ecological Information | Informasi lingkungan | Konteks risiko lingkungan |
| 13. Disposal Considerations | Informasi pembuangan | Penanganan sisa produk |
| 14. Transport Information | Informasi transportasi | Sangat relevan untuk screening logistik |
| 15. Regulatory Information | Informasi regulasi | Memberikan konteks aturan terkait produk |
| 16. Other Information | Revisi dan informasi lainnya | Membantu mengecek versi SDS |
Untuk kebutuhan pengiriman, bukan berarti hanya Section 14 yang perlu dibaca. Section 1, 2, 7, 9, 10, dan 14 sering perlu dilihat bersama agar karakter produk dapat dipahami lebih utuh.
Section 14 SDS dan Kaitannya dengan Pengiriman
Bagi pengirim, Section 14 — Transport Information merupakan salah satu bagian yang paling dekat dengan proses screening logistik.
Bagian ini dapat memuat informasi seperti UN Number, Proper Shipping Name, transport hazard class, Packing Group bila berlaku, environmental hazard, dan tindakan pencegahan khusus terkait transportasi.
UN Number
UN Number merupakan nomor identifikasi yang digunakan dalam sistem transportasi untuk bahan atau barang tertentu.
Jika suatu SDS mencantumkan UN Number, jangan membaca nomor tersebut secara terpisah. Cocokkan juga dengan Proper Shipping Name, hazard class, Packing Group bila berlaku, serta informasi transportasi lainnya.
Proper Shipping Name
Proper Shipping Name merupakan nama resmi yang digunakan dalam konteks pengangkutan dangerous goods. Nama tersebut tidak selalu sama dengan merek atau nama dagang pada kemasan.
Itulah sebabnya keterangan barang seperti “chemical”, “cairan pembersih”, “cat”, atau “baterai” sering belum cukup untuk menentukan kebutuhan pengirimannya.
Transport Hazard Class
Transport hazard class menunjukkan kelas bahaya yang digunakan dalam konteks transportasi apabila barang tersebut memang memiliki klasifikasi dangerous goods.
Kelas ini tidak sebaiknya ditebak hanya berdasarkan jenis barang secara umum. Dua produk yang sama-sama disebut cairan industri belum tentu memiliki klasifikasi transportasi yang sama.
Packing Group
Packing Group digunakan pada kategori tertentu untuk menunjukkan tingkat relatif bahaya dan dapat berkaitan dengan persyaratan kemasan.
Tidak semua barang mempunyai Packing Group. Karena itu, data yang tidak tersedia pada SDS tidak sebaiknya diisi sendiri berdasarkan perkiraan.
Section 14 Tetap Perlu Dibaca Bersama Bagian Lain
Section 14 membantu proses screening, tetapi informasi di dalamnya tidak menggantikan ketentuan pengangkutan untuk moda maupun operator yang digunakan.
Data transportasi tetap perlu diperiksa bersama kondisi aktual barang, kemasan, jumlah, dan aturan yang berlaku.
SDS Bukan Izin Otomatis untuk Mengirim Barang
Salah satu miskonsepsi yang perlu dihindari adalah menganggap barang pasti dapat dikirim hanya karena sudah memiliki MSDS atau SDS.
SDS merupakan sumber informasi keselamatan, bukan izin universal untuk menggunakan semua moda transportasi. Keputusan penerimaan shipment juga dipengaruhi klasifikasi barang, kemasan, kondisi aktual, jumlah, moda, operator, rute, serta kebijakan penyedia layanan.
Pada moda udara, Indonesia memiliki PM 32 Tahun 2022 tentang keselamatan pengangkutan barang berbahaya dengan pesawat udara. Pada tingkat industri penerbangan internasional, IATA Dangerous Goods Regulations 67th Edition berlaku untuk periode 1 Januari sampai 31 Desember 2026.
Untuk laut, IMDG Code 2024 Edition incorporating Amendment 42-24 berlaku mandatory sejak 1 Januari 2026 dan menjadi kerangka utama pengangkutan dangerous goods dalam bentuk kemasan melalui laut.
Sementara itu, untuk konteks angkutan jalan di Indonesia, PM 77 Tahun 2021 mengatur kompetensi sumber daya manusia angkutan barang berbahaya di jalan dan saat ini masih berstatus berlaku.
Acuan tersebut memiliki ruang lingkup masing-masing. Karena itu, SDS sebaiknya dipakai sebagai sumber informasi untuk memahami karakter produk, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan pengiriman.
Apakah Semua Bahan Kimia Termasuk Dangerous Goods?
Tidak.
Istilah bahan kimia sangat luas. Suatu produk dapat mengandung bahan kimia tetapi tidak otomatis diklasifikasikan sebagai dangerous goods dalam konteks transportasi.
Sebaliknya, sejumlah barang yang terlihat umum seperti baterai, aerosol, dry ice, gas bertekanan, atau peralatan yang masih memiliki bahan bakar maupun sumber daya aktif dapat membutuhkan pemeriksaan khusus tergantung karakter dan kondisi pengirimannya.
Karena itu, identifikasi barang sebaiknya tidak berhenti pada nama kategori. Nama produk yang spesifik, SDS yang sesuai, kondisi aktual barang, kemasan, dan informasi transportasi perlu dilihat bersama sebelum mengambil keputusan.
Bagaimana MUAT Cargo Melakukan Screening Barang?
Dalam proses inquiry, MUAT Cargo membutuhkan informasi barang yang cukup sebelum mengarahkan pelanggan ke layanan yang relevan.
Kategori seperti dangerous goods, B3, bahan mudah terbakar, korosif, beracun, radioaktif, cairan, aerosol, baterai, magnet, dry ice, gas, tabung bertekanan, serta mesin atau kendaraan yang masih menyimpan bahan bakar, oli, cairan, baterai aktif, atau sumber daya lainnya perlu diperiksa sebelum pickup atau penerimaan.
Dangerous goods dan B3 tidak diterima melalui layanan cargo reguler MUAT Cargo. Barang dengan karakter khusus tetap harus melalui pemeriksaan sebelum ada keputusan penerimaan.
| Informasi yang Disiapkan | Mengapa Diperlukan |
|---|---|
| Nama barang yang spesifik | Menghindari identifikasi dari istilah terlalu umum |
| Isi atau komposisi bila relevan | Membantu memahami karakter produk |
| SDS/MSDS yang sesuai | Melihat hazard, handling, dan informasi transportasi |
| UN Number atau hazard class bila tercantum | Menjadi data tambahan untuk screening |
| Foto barang dan kemasan | Membandingkan dokumen dengan kondisi aktual |
| Jumlah koli, berat, dan dimensi | Menilai kebutuhan operasional |
| Kota asal dan tujuan | Memeriksa rute serta moda yang tersedia |
| Dokumen lain bila diperlukan | Melengkapi pemeriksaan shipment |
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan barang dapat diproses sebagai cargo reguler, barulah kebutuhan operasional seperti rute, berat, volume, jenis layanan, serta moda dapat dievaluasi lebih lanjut.
Untuk barang besar, berat, atau banyak koli yang sudah dipastikan sesuai dengan ketentuan layanan, MUAT Cargo memiliki layanan cargo darat untuk pengiriman barang besar dan banyak koli dengan pilihan LTL maupun FTL sesuai profil muatan.
Contoh: Mengapa “Cairan Pembersih” Belum Cukup sebagai Deskripsi Barang?
Bayangkan sebuah perusahaan ingin mengirim beberapa jerigen dengan keterangan barang “cairan pembersih industri”.
Dari nama tersebut saja, pihak logistik belum dapat mengetahui apakah produk bersifat non-hazardous, mudah terbakar, korosif, atau memiliki karakter lainnya. Warna cairan maupun bentuk jerigen juga bukan dasar yang cukup untuk mengambil keputusan.
SDS dapat memberikan konteks tambahan. Section 1 membantu mencocokkan produk, Section 2 menunjukkan hazard identification, Section 7 membahas handling dan storage, Section 9 menjelaskan sifat fisika-kimia, sedangkan Section 14 memberikan informasi transportasi bila tersedia.
Setelah informasi tersebut diperiksa bersama kondisi aktual produk dan kemasannya, screening dapat dilakukan dengan lebih bertanggung jawab.
Contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan bukan berarti semua cairan pembersih memiliki klasifikasi dangerous goods.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menggunakan MSDS
Menggunakan SDS Produk yang Berbeda
Produk dengan fungsi serupa belum tentu memiliki komposisi atau karakter bahaya yang sama. SDS harus cocok dengan produk yang sebenarnya akan dikirim.
Hanya Membaca Halaman Pertama
Informasi yang relevan dengan pengiriman dapat tersebar di beberapa bagian. Section 2, 7, 9, 10, dan 14 sering perlu diperiksa bersama.
Mengandalkan Label Kemasan Saja
Label merupakan bagian penting dari komunikasi bahaya, tetapi screening pengiriman dapat membutuhkan informasi teknis tambahan dari SDS dan kondisi aktual barang.
Menganggap UN Number Sudah Menjawab Semuanya
UN Number bukan satu-satunya informasi dalam Section 14. Proper Shipping Name, hazard class, Packing Group bila berlaku, serta ketentuan moda tetap perlu diperiksa.
Tidak Mengecek Revisi SDS
Section 16 umumnya memuat informasi mengenai penyusunan atau revisi dokumen. Jika SDS sudah lama disimpan, bagian ini layak diperiksa sebelum dokumen digunakan kembali.
Dari Mana Mendapatkan SDS/MSDS?
SDS sebaiknya diperoleh dari pihak yang mengetahui dan bertanggung jawab terhadap produk, seperti produsen, importir, distributor, atau pemasok yang relevan.
Bagi pengirim, fokus utamanya adalah memastikan dokumen tersebut benar-benar sesuai dengan produk aktual. Jangan mengubah komposisi, hazard classification, UN Number, atau informasi transportasi agar barang terlihat memenuhi ketentuan pengiriman.
Apabila nama produk, formula, label, atau kondisi barang tidak sesuai dengan SDS yang tersedia, mintalah dokumen yang benar terlebih dahulu.
Untuk perusahaan yang berulang kali mengirim produk yang sama, menyimpan SDS bersama data produk dapat membantu mempercepat persiapan. Namun revisi dokumen dan persyaratan shipment tetap perlu diperiksa kembali ketika pengiriman berikutnya akan dilakukan.
Regulasi dan Acuan yang Relevan pada 2026
Dalam konteks Indonesia, KEP.187/MEN/1999 masih tercatat berlaku dan mengatur Lembar Data Keselamatan Bahan dalam pengendalian bahan kimia berbahaya di tempat kerja.
Untuk angkutan jalan, PM 77 Tahun 2021 masih berlaku dan mengatur kompetensi sumber daya manusia angkutan barang berbahaya di jalan.
Untuk moda udara di Indonesia, PM 32 Tahun 2022 mengatur keselamatan pengangkutan barang berbahaya dengan pesawat udara. Di tingkat industri penerbangan internasional, IATA DGR 67th Edition merupakan edisi yang berlaku untuk 2026.
Sementara untuk moda laut, IMDG Code Amendment 42-24 berlaku sejak 1 Januari 2026.
Masing-masing acuan tersebut memiliki lingkup berbeda. Karena itu, jangan menggunakan satu regulasi sebagai pengganti seluruh persyaratan shipment. Pemeriksaan aktual tetap harus mempertimbangkan barang, moda, operator, rute, kondisi kemasan, serta aturan yang berlaku.
FAQ tentang MSDS
Apa perbedaan MSDS dan SDS?
MSDS merupakan singkatan dari Material Safety Data Sheet dan masih banyak digunakan dalam praktik. SDS atau Safety Data Sheet merupakan istilah yang digunakan dalam kerangka GHS modern dengan struktur informasi yang lebih terstandardisasi.
Apa itu LDKB?
LDKB adalah Lembar Data Keselamatan Bahan, yaitu istilah Bahasa Indonesia yang digunakan dalam regulasi keselamatan bahan kimia.
Apakah setiap barang yang memiliki SDS termasuk Dangerous Goods?
Tidak. Keberadaan SDS tidak otomatis berarti produk dikategorikan sebagai dangerous goods dalam transportasi. Klasifikasi tetap perlu mempertimbangkan karakter produk dan ketentuan moda yang berlaku.
Apa fungsi Section 14 dalam SDS?
Section 14 berisi informasi transportasi yang dapat mencakup UN Number, Proper Shipping Name, hazard class, Packing Group bila berlaku, environmental hazard, serta special precautions.
Apakah barang yang memiliki MSDS pasti dapat dikirim?
Tidak. SDS hanya merupakan salah satu sumber informasi untuk screening. Penerimaan shipment tetap dipengaruhi jenis barang, klasifikasi, kemasan, kondisi aktual, moda, operator, rute, dan kebijakan penyedia layanan.
Apakah MUAT Cargo menerima Dangerous Goods atau B3?
Dangerous goods dan B3 tidak diterima melalui layanan cargo reguler MUAT Cargo. Barang dengan karakter khusus perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum pickup atau penerimaan agar klasifikasi, kemasan, dokumen, rute, serta moda dapat dinilai.
Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Menghubungi MUAT Cargo?
Siapkan nama barang secara spesifik, jumlah koli, berat, dimensi, foto barang dan kemasan, kota asal dan tujuan, serta SDS/MSDS atau informasi klasifikasi bila tersedia. Informasi yang lebih lengkap membantu screening dilakukan sebelum barang masuk ke proses pengiriman.
Periksa Karakter Barang Sebelum Menjadwalkan Pickup
MSDS bukan sekadar dokumen teknis untuk kebutuhan administrasi. Jika dibaca dengan benar, SDS dapat membantu pemilik barang dan penyedia logistik memahami karakter produk, potensi risiko, kebutuhan penanganan, dan informasi transportasi yang perlu diperiksa sebelum shipment berjalan.
Bagi pengirim, pertanyaan terpenting bukan hanya “apakah barang ini mempunyai MSDS?”, tetapi apakah dokumen tersebut sesuai dengan produk aktual, apa yang dijelaskan mengenai karakter barangnya, serta apakah shipment memenuhi persyaratan layanan dan moda yang akan digunakan.
Jika Anda belum yakin dengan karakter barang yang akan dikirim, siapkan nama barang, jumlah koli, berat, dimensi, foto kemasan, dan SDS/MSDS bila tersedia sebelum menjadwalkan pickup. Anda dapat konsultasikan detail barang dengan tim MUAT Cargo agar kebutuhan pengiriman dapat diperiksa lebih dahulu dan diarahkan ke layanan yang relevan.



